ATTA DAN MATTA

Jumat, Desember 25, 2015

(diilhami dari ensiklopedi Harun Yahya terbitan SIGMA)

“Atta,  cepat!” komandan  Patta berseru.  Atta   cemberut. Bergegas-gegas ia memanjangkan langkahnya mengejar Matta.
 Matta memanggul selembar daun dengan gagahnya. Ia melangkah tegap dan cepat. Seolah-olah tak ada beban apa pun di pundaknya. Atta sungguh heran. Dari mana Matta mendapat kekuatan sebesar itu? Jarak antara kebun dan sarang cukup jauh. Membawa selembar daun, yang jauh lebih besar  dari tubuhnya sendiri, bukan hal yang mudah.
Matta berhenti, dan menoleh.
“Ayolah, Atta. Cepatlah sedikit!”suara keras Matta mengejutkan Atta. Ia semakin bergegas. Badan terasa lelah, tapi masih harus terus bekerja. Oh, oh, menjadi semut pekerja, sungguh tak enak!
Matta  merendahkan tubuhnya. Atta melompat dengan sigap ke atas punggung Matta, kemudian melompat lagi ke atas daun. Tubuh Matta besar dan gagah. Berat badan Atta yang kecil pasti tidak berarti bagi Matta.
“Siap?” Matta bertanya.
“Siap, mari berangkat!” Atta berteriak lantang.  Berteriak lantang membuat Atta merasa gagah.
Matta mulai berjalan. Tangannya memegang daun  erat-erat.  Langkahnya mantap  dan tegap. Matta memang sangat bertanggung jawab.  Ia akan berjalan membawa daun itu menuju sarang tanpa berhenti.
Atta berayun-ayun seiring langkah Matta.  Panas menyengat tubuhnya. Angin yang bertiup kadang-kadang membuat Atta oleng. Lama-lama, Atta merasa mengatuk. Angin yang bertiup sepoi-sepoi membuat mata Atta terasa berat.
“Berhentilah sebentar, aku mengantuk!” kata Atta pada Matta.
“Tidak bisa, daun ini harus tiba tepat waktu. Kalau berhenti, kita akan membuat teman-teman menunggu,” kata Matta tegas.
“Ayolah, berhenti barang sebentar tidak akan membawa masalah,” desak Atta lagi.
“Tidak bisa,” Matta menjawab tak kalah tegas.
Atta sungguh jengkel.  Matanya juga semakin terasa berat. 
“”Jangan tidur, kau harus menjagaku !” Matta mengingatkan. Ya, ya, Atta sungguh tahu tugasnya. Ia berada di atas daun untuk menjaga Matta dari lalat pemangsa.  Lalat pemangsa itu akan menyimpan telur  di kepala semut pekerja. Telur itu akan melukai kepala semut sedikit demi sedikit.
Matta masih saja berjalan. Atta semakin mengeratkan pegangannya. Atta menguap. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Berikutnya, Atta terpejam.  Tubuhnya bersandar dengan nyaman di lekuk daun yang lebar.
Tiba-tiba, ada suara berdengung-dengung. Semakin lama dengung itu semakin dekat. Atta bangun dengan terkejut. Seekor lalat pemangsa terbang sangat dekatnya. Oh, oh, bahaya!
Lalat itu terbang mengelilingi Matta dan Atta. Dari sebelah kiri, ia berpindah ke kanan. Sesekali terbang rendah, sikapnya mengancam dan memberikan isyarat berbahaya.
Atta cepat-cepat berdiri, mengawasi lalat itu. Ia mengangkat tangan dan kakinya tinggi-tinggi. Rahangnya yang setajam gunting bergerak-gerak menakut-nakuti.
“Awasss!” Matta kembali berteriak. Atta berbalik. Ternyata ada lalat lain yang mendekat dari arah belakang. Lalat itu lebih besar dari lalat yang pertama.
 “Pegang erat-erat!!” Matta mempercepat langkahnya. Ia meliuk-liuk di sea-sela ranting dan daun-daun kering di batang pohon besar yang sedang mereka susuri.
Atta mengibaskan tangannya, mengusir lalat yang terbang rendah. Dapat! Satu lalat terbang menjauh dengan sayap yang sobek.
Masih ada satu lalat lagi. Lalat yang lebih besar. Ia tampak ganas sekali. Kepakan sayapnya  menimbulkan suara-suara bising yang menakutkan.  Atta berdiri tegap. Tangannya terentang lebar Kepalanya tegak, dengan rahang tajam yang menganga. Ayo, mendekatlah! Rasakan senjataku ini, kata Atta dalam hati.
Lalat itu meluncur . Tepat saat mendekat, Atta menyerang sayapnya, mengguntingnya dengan cepat! Tapi hentakan sayap itu juga membuat Atta   jatuh terbanting ke tanah.
Saat siuman, Atta telah berada di sarang kembali. Matta menungguinya di sebelah.
“Maafkan aku, aku sudah melalaikan tugasku,” kata Atta sedih.
                “Siapa bilang? Kau sudah menyelamatkanku dari  lalat itu Kau hebat!” kata Matta dengan semangat.
                Atta senang mendengarnya. Lain waktu, Atta akan lebih bertanggung  jawab menjaga. Tidak mengantuk, apalagi mengeluh!



Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.