DONGENGKU : SELENDANG NENEK CIHUY

Jumat, Desember 25, 2015


(dimuat di  KUMPULAN DONGENG BOBO NO 78, 12 DESEMBER  2012)

                Namanya Nenek Cihuy. Nenek bermata kecil, berhidung mungil, dan tubuhnya  kerdil. Tingginya tidak lebih dari anak usia sepuluh tahun. Bentuk kepalanya agak lonjong dan rambutnya merah menyala. Walau tampak sedikit seram, Nenek Cihuy sungguh baik hatinya. Ia mau menolong siapa pun yang kesulitan.
                Banyak warga desa yang merasakan langsung kebaikannya.  Nenek Cihuy mengijinkan  pengembara menginap di rumahnya jika kemalaman. Anak yang sakit dibuatkannya ramuan obat-obatan. Ajaibnya, siapa pun yang sakit pasti sembuh setelah meminum ramuannya.
                Jika ada yang kekurangan bahan pangan, penduduk mendatangi  kebunnya. Mereka bisa memetik  apa saja yang dibutuhkan di sana. Ubi, kacang panjang, waluh, dan lain-lain. Pendeknya, Nenek Cihuy selalu punya jalan untuk meringankan orang lain.
                “Aku ingin belajar meramu obat-obatan, Nek,” kata  Lola, seorang gadis cantik putri  seorang  panglima perang.
                “Aku juga,” kali ini Mamiri yang bicara. Ia gadis manis putri  saudagar kaya.
                “Kau juga mau, anak manis?” Nenek Cihuy menanyai  satu gadis lain di belakang Mamiri. Ia tersenyum malu-malu.
                “Namanya Janna, Nek. Ia pelayanku.  Kupikir ia bodoh. Tidak mungkin ia bisa belajar tentang hal-hal sulit,”kata Mamiri dengan angkuhnya. Nenek Cihuy hanya tersenyum.
                “Siapa pun bisa belajar,” kata Nenek Cihuy. Ia melambai kea rah Janna, memintanya mendekat.
                “Belajar denganku syaratnya sangat mudah. Bawalah selendang ini,” Nenek Cihuy mengeluarkan sehelai selendang  yang sudah lusuh.
                “Setiap orang mendapat kesempatan sehari dengan selendang itu. Besok, giliran pertama untukmu, Mamiri,” kata Nenek Cihuy.
Mamiri sangat senang. Ia ingin memberikan kesan yang baik pada Nenek Cihuy. Rahasia ramuan itu harus didapatkannya.  Bapak sudah punya rencana untuk menjual ramuan-ramuan itu dengan harga tinggi. Dengan cara itu, mereka akan punya uang yang lebih banyak.
Mamiri membawa pulang selendang   Nenek Cihuy. Selendang itu kusut, dan warnanya pudar. Jika diselempangkan, warnanya yang pudar tidak tampak indah.  Mamiri  menyimpan selendang itu dalam kantongnya. Ia menghabiskan waktunya dengan berkeliling mengunjungi teman-temannya hanya untuk mengobrol.
Esokharinya, Mamiri mengembalikan selendang itu pada Nenek Cihuy.
“Jangan khawatir, Nek. Selendang itu aku jaga dengan baik. Ia tidak kotor sama sekali,”kata Mamiri  bangga. Nenek cihuy tersenyum saja.
Giliran Lola  membawa selendang. Lola mencucinya, memberinya wewangian  dan melipatnya dengan rapi. Selendang itu jadi harum sekali. Lola menghabiskan waktu yang diberikan untuk berdandan.
“Ini Nek,  selendang Nenek tambah wangi,” pamer  Lola dengan bangga. Mamiri dan Janna berdiri di sebelah Nenek Cihuy.  Nenek Cihuy mencium selendangnya. Hm, memang harum luar biasa!
“Kau ingin mencobanya?” tanya Nenek Cihuy pada Janna. Mamiri memandang tidak suka.
“Tidak apa-apa,  Mamiri. Beri kesempatan padanya,” kata Nenek Cihuy lembut. Mamiri terpaksa mengangguk. Dia tidak ingin Nenek Cihuy menilai buruk padanya.
Janna menerima selendang itu dengan senang. Mamiri mengajaknya pulang. Sepanjang hari, dibuatnya Janna sibuk dengan perintahnya. Mamiri bolak-balik  menyuruh Janna kepasar. Jannah juga harus mengantar makanan kepada para pekerja kebun.  Pokoknya seharian itu Mamiri tidak membiarkannya beristirahat.
Esok hari, Nenek Cihuy menunggu  selendangnya. Janna memberikannya dengan cemas.
“Kenapa kotor sekali?” Nenek Cihuy bertanya sambil membalik-balik selendangnya. Selendang itu memang kotor. Ada bercak-bercak noda.  Dibagian tengah bahkan sedikit sobek.
“Maaf, Nek. Ketika ke pasar kemarin, ada anak kecil yang jatuh dan terluka.  Selendang itu kupakai untuk membebat  kakinya yang luka,” kata Janna lirih. Mamiri melotot mendengarnya.
“Lalu, kenapa ini ada bekas tanahnya?” Nenek  menunjuk sisi lain selendang.
“Oh, itu… Tetanggaku terjatuh dari kudanya. Gaunnya kotor, padahal ia harus menghadiri  acara penting. AKu membantu membersihkan kotorannya dengan selendang itu,” suara Janna semakin lirih karena takutnya.
“Apa penyebab sobekan ini?” Nenek menunjuk bagian lain.
“Maaf, Nek. Aku memakai selendang itu untuk memanggul kayu bakar milik  Sania, anak yatim desa sebelah. Kasihan, ia tidak bisa mengangkatnya sendiri karena berat,”kata Janna. Kepalanya menunduk dalam. Ia siap jika akhirnya Nenek Cihuy marah karena selendangnya rusak. Semalam Janna terlalu  lelah hingga tidaksempat mencucinya.
“Kamu yang kupilih, Janna,” kata Nenek Cihuy.
“Kenapa dia? Dia sudah merusak selendang itu!” protes Mamiri.
“Aku sudah menjaganya dengan sangat baik,” Lola ikut bersuara keras.
“Kalian berdua tidak melakukan apa-apa.  . Aku ingin ramuan obat-obatanku jatuh ke  tangan yang tepat. Aku mencari orang yang sudah terbiasa menolong  dan meringankan orang lain. Kalian berdua terlalu sibuk dengan diri sendiri,” kata Nenek Cihuy sambil tersenyum.
Mamiri dan Lola sangat malu. Tugas menjaga selendang itu ternyata membuat Nenek Cihuy tahu betapa egoisnya mereka. Tidak peduli orang lain, dan mementingkan diri sendiri.
Nenek Cihuy senang karena akhirnya bisa mendapatkan penerusnya.

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.