HUTANG SUNAT, EH ANGPAU SUNAT

Jumat, Oktober 14, 2016
Baca tulisan ini : http://emak2blogger.com/2016/09/21/bayarlah-utangmu-sebelum-ditagih/

Saya jadi ingat hutang saya pada Hafidz.


Hafidz kecil, masih bisa difoto.


Sekitar dua tahun lalu. Ketika itu Hafidz masih TK B, semester dua. Kami sedang bersantai, ketika tiba-tiba dia nyelonong bicara.
“Aku mau sunat.”
What? Sunat? Tak ada hujan tak ada badai minta sunat? Eh,  tapi sebenarnya sejak setahun lalu dia ujug-ujug minta sunat. Saya mengijinkan, ayahnya gak tega.
“Masih kecil, kasihan,” kata Ayah  dulu.
Nah, yang tiba-tiba muncul lagi sekarang. Mumpung mau, ini kesempatan bagus. Sekarang dia belum dapat cerita macam-macam tentang sunat. Masih steril, belum muncul takut. Saya khawatir kalau sudah masuk SD, dia akan dapat informasi yang membuatnya urung minta sunat.
Satu lagi pertimbangan kami, saat itu menjelang liburan. Hafidz punya waktu yang cukup untuk penyembuhan tanpa membolos sekolah.
“Nanti dikasih hadiah,” saya memotivasi.
“Minta apa?” Ayah bertanya. Mata Hafidz berbinar-binar. Ia tersenyum lebar, khas sekali. Antara senyum jail, lucu, gembira.
“Aku minta gasing!” suaranya lantang saat katakan itu.
Waaaa... Surprais. Semula kami mengira ia akan minta yang aneh-aneh. Gasing? Gasing saja? Kepalanya mengangguk mantap ketika saya tanyakan itu.
“Gasing, tiga!”
Okeh. Deal! Kami sepakat.  Ayah mengontak dokter Wahid, teman kami, yang membuka praktik sunat menyunat di rumahnya. Besok Sabtu, jam enam pagi, pak Wahid bersedia menerima kami.
Jujur, saya cemas dan deg-degan. Bagaimana nanti pada masa penyembuhan? Saya delapan bersaudara, perempuan semua. Laki-laki satu-satunya ya hanya Bapak. Tentu saja saat menjadi bapak kami, Bapak sudah disunat. Jad, tak pernah ada di rumah kami  ritual sunat. Kami  tak punya pengalaman cukup menghadapi itu. Sekedar tahu saja dari tetangga atau teman SD yang sunat.
Jadi, ini ‘acara’ Ayah. Saya mengandalkannya sepenuhnya. Wis pasrah bongko’an. Saya ikut saja gimana-gimananya.
Malam hari, Hafidz riang dan bersemangat.  Yang dijadikan topik pembicaraannya adalah gasing. Gasing A itu warnanya begini, besarnya segini, mainnya begini. Punya temannya yang itu. Saya mengangguk-angguk saja. Pikiran saya ke eksekusi besok pagi. Kuatkah saya menemaninya?
Shubuh, Hafidz bangun dengan sigap. Mandi segera dan berganti pakaian. Ayah tertawa geli melihat semangatnya. Saya cemas.
“Ayo, berangkat!” Hafidz mondar-mandir di luar, sudah ready. Setengah enam pagi, kami meluncur. Dokter Wahid belum siap. Kami menunggu beberapa menit.
“Kok lama?” Hafidz tak sabar. Aduh, Hafidz ganteng, kenapa Bunda yang ndreweli begini? Saya nervous, asli.
Pak Dokter keluar.
“Mana yang mau sunat?” tanyanya.
Hafidz tidak menjawab. Dia langsung melompat ke atas kasur. Pak Dokter melongo. Ayah dan saya tertawa.
“Wah, hebat ini!” Pak dokter akhirnya tertawa.
Ritual sunat dimulai. Semula saya di luar. Gak tega. Ayah melambai, meminta saya mendekat. Dengkul saya agak gemetar, saya takut. Bukan takut pada jarum. Takut gak kuat kalau Hafidz menangis kesakitan.
Dan itu yang terjadi. Hafidz menangis saat disuntik bius. Dia berteriak-teriak.
“Saaakiit... saaaakiiit! Sudah, sudaaaaaah!”
Hiks, saya hampir mewek. Tangannya saya genggam, kepalanya saya belai. Pak Dokter menyiapkan alat, sementara menunggu bius bekerja.
“Baca Al Fatihah, yuk. Bisa kan? Sama surat al ikhlas, al falaq, an naas. Bisa, ya?” Itu bujukan pak Dokter yang saya ingat. Beliau membaca doa-doa sebelum sunat dimulai.
Saya tidak berani melihat. Menunduk dekat kepalanya, bersama-sama membaca surat yang diminta.
“Alhamdulillah, selesai!”
Kalimat itu sungguh melegakan. Air mata Hafidz saya usap. Hafidz mungkin lebih lega lagi. Begitu beres, dia melompat turun. Haduuuh, saya kuwaget!
“Semangat sekali! Luar biasa ini!” pak Dokter geleng-geleng.
“Ayo, beli gasing!” Hafidz memegang tangan saya. Oalaah, itu toh!
“Belum buka pasarnya, Kak,” saya tertawa geli.
“Ayah selesaikan dulu pembayarnnya, ya.”
Hafidz mengangguk, lalu duduk di pangkuan saya.
“Hebat, keren. Berani sunat itu jagoan,” saya mengecup kepalanya.
“Sakit waktu disuntik,” dia cemberut. Saya memeluknya.
“Sini, salim dulu,” Pak Dokter mendekat. Lalu menyodorkan sejumlah uang.
                “Buat sangu, ya!” kata Pak Dokter. Hafidz menerima sambil tersenyum.  
Ada teman Ayah yang kebetulan pagi itu check -up ke situ. Beliau memberi Hafdiz uang saku juga begitu tahu Hafidz baru saja sunat.
“Semoga jadi anak sholih,” teman ayah mendoakan. Aamiin...
“Ke pasar, ya?” Hafidz mengingatkan kami lagi begitu mobil berjalan.
“Tutup, sayang. Buka nanti jam sembilan,” jelas Ayah.
“Lihat dulu, “ Hafidz bersikeras.
Baiklah. Kami berputar melewati pasar besar. Tentu saja toko-toko masih tutup. Kami pulang. Kakak-kakak Hafidz menyambut di gerbang. Mereka antusias dan penasaran. Banyak pertanyaan dilontarkan.
“Sudah sunat?”
“Gimana rasanya?”
“Pedih gak?”
“Sakit?”
“Diapakan aja?”
Hafidz menjawab pendek-pendek. Dia bersikap baisa, berjalan seperti biasanya dan tidak menampakkan tanda-tanda kesakitan. Yang dilihat dengan intens adalah jarum jam. Tepat pukul sembilan, Ayah dan Hafidz berangkat ke pasar. Dan pulang dengan wajah ceria. Dia sudah mendapatkan gasingnya!
Sepanjang siang, tidak ad ayang berubah. Dia masih main-main, naik-naik, lompat-lompat. Kami yang harus mengingatkannya agar pelan-pelan.
“Ayo, pipis. Dari tadi belum pipis,” Ayah mengingatkan.
Jreng-jreeeeeng.... Mulailah drama itu.
Hafidz menangis. Katanya perih. Sama sekali dia tidak mau mengeluarkan air seninya. Ketakutannya akan sakit membuatnya bertahan tidak mau pipis.
“Ayah siiiih, gak bilang kalau pake gini segala... Kalau tahu gini aku kan gak mau sunat!” Dia mengomel panjang lebar sambil menangis.
Antara geli, kasihan, dan konyol mendengar kata-katanya itu. Hinggamalam hari, persoalan ingin pipis menjadi horor tersendiri. Kami harus membujuknya, menunggui bersama-sama agar Hafidz mau pipis.
Beberapa hari kemudian, kami mengadakan tasyakuran kecil-kecilan. Mengundang sahabat-sahabat  saya dan keluarga besar kami. Pakde bude, paman, bibi, semuanya terkejut ketika diberi kabar bahwa Hafidz sunat.
“Kok gak ngabari?”
“Kenapa mendadak?” Itu pertanyaan yang banyak muncul.
“Mumpung mau sunat.”
“Minta sunatnya juga mendadak.” Itu saja jawaban kami.
Hafidz diberi uang saku. Amplop-amplop itu diletakkan begitu saja di atas meja, lalu dia sibuk dengan gasing-gasingnya. Raihan, sahabat dekatnya, memberinya hadiah gasing  juga.
Peristiwa sunatnya Hafidz ternyata menginspirasi Raihan dan putera salah satu sahabat saya yang duduk di kelas enam. Hafidz ganti memberi Raihan hadiah gasing. Raihan juga menangis waktu buang air kecil.

“Pipiskan aja, Han. Gak papa, nanti sakitnya hilang kok. Gak papa,” hibur Hafidz. Saya tertawa geli, ingat teriakan dan omelan Hafidz.
Beberapa hari kemudian, Hafidz ingat dengan uang sakunya.
“Simpan Ayah saja,” katanya. Baiklah, Ayah yang simpan. Beberapa bulan kemudian, Hafidz ingat lagi dengan titipannya.
“Uang sunatku berapa ya? Di Ayah kan?” Ayahnya meringis. Uang itu sudah terpakai untuk membangun kelas.
“Kemarin uangnya Ayah pinjam untuk bangun ruangan atas,” Ayah menerangkan pelan-pelan.
“Oh ya. Pinjam, loh yaa,” katanya.
Hehehehehe. Iya, InsyaaAllah dikembalikan.
Jadinya hutang sunat , eh, hutang uang saku sunat,  nih! Hingga sekarang, jika ingat, seringkali Hafidz bilang : “Angpau sunatku dipinjam, buat bangun kelas, ya?”
Iya, Nak.  Semoga keridhaanmu meminjamkan mengundang rahmat bagimu.






8 komentar:

  1. MasyaAllah, Hafidz keren banget. Sunatnya hebat, pintar. Moga Faraz jg nanti gak susah klo diajak sunat.

    Ayah jadi berhutang nih ceritanya, hihih. Moga segera ada rejeki buat melunasi angpau Hafidz :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin...
      Mas Faraz usia berapa Mba?

      Hapus
  2. wah jagoan bu umi hebat..salam ya buat jagoan sholeh nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaaAllah disampaikan.. TErima kasih, Bude...

      Hapus
  3. wah jagoan bu umi hebat..salam ya buat jagoan sholeh nya

    BalasHapus
  4. wih...keren hafidz...nanti kalo utangnya dah dibayar, bisa buat beli gasing sekarung ya nakk..hehe

    BalasHapus
  5. Sampai sekarang Hafidz masih ingat nggak ya sama hutang angpaunya? Semoga berlipat ya Hafidz rejekinya. Aamiin.

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.