SEBELAH

Rabu, Mei 01, 2019


Suatu Sabtu, sekitar bulan Maret, saya ke pasar. Sudah lama tak ke pasar. Saya rindu hiruk pikuknya, rindu memilih ikan mujair, ikan kembung, cumi-cumi di lapak ikan. Juga rindu penjual ayam yang menjadi timses Capres 02 di desanya (yeah, sama! Eh, bukan sama sebagai timses, tapi sama pilihannya!) Juga rindu penjual pisang kepok langganan.
"Gak pernah kelihatan, Mbak. Suwi gak nang pasar!" Komentar si Mbak saat saya berhenti di depan kiosnya. Tuh kan, dia juga rindu saya!

Seperti biasa, Mas Budi menurunkan di pintu tengah, sebelah barat. Nanti dia akan menunggu di pintu samping bagian depan, sebelah barat juga. Dekat dengan toko bahan bangunan. Juga dekat penjual kelapa. Seringkali kami beli airnya. Sebungkus, plastik ukuran 1 kg, harganya seribu rupiah.
Pasar itu tempat saya merenung. Eh, jangan bayangkan saya duduk di tengah pasar begitu. Maksudnya, kejadian di pasar yang ditemui saat belanja, menjadi bahan tadzkirah.
Contohnya, ketika beli kecambah. Bapak penjualnya masih muda. Saya biasa beli di pintu depan, dekat penjual buah, juga dekat tempat parkir sepeda motor bagian depan.
"Beli dua ribu, Pak," saya mengangsur dua ribu rupiah.
"Siyyap!" Si Bapak menjawab riang, lalu sigap mewadahi kecambah dengan menggunakan tas kresek putih ukuran agak kecil.
"Lho..lho...," saya terkejut. SI Bapak juga terkejut, dan berhenti mewadahi.
"Kenapa Mbak?" Cihuyy, dipanggil 'mbak'! Sek, terbang dulu yes!
"Kebanyakan!"
"Katanya dua ribu." Bapaknya bingung. Tangannya bergerak lagi, hendak meraup kecambah dengan semnagat.
"Stop..stop.. Segitu saja, jangan ditambahi." Saya mengambil kantong dari tangannya.
"Terima kasih, Pak." Saya pamitan dan pergi.
Saya gak tega, dua ribu rupiah, dapat kecambah banyak nian. Keuntungan penjualnya berapa? Penghasilan dia dari jual kecambah berapa?
"Ya dapat banyak untungnya, siapa tahu dia punya satu truk!" Komentar Mas Budi demikian. Make sense, sih, tapi tetap saja saya mellow. Sekaligus salut. Wajah sumringah penjual, candaan sesama penjual yang terdengar, mengisyaratkan kelapangan dan bersahajanya hidup mereka.
"Baru laku sedikit," itu curhatan penjual sayuran kepada penjual sayuran lain yang lapaknya bersebelahan. Lapak mereka cuma gelaran tikar di tepi lorong.
"Yo disyukuri, piye maneh. Gusti Allah wes ngatur kabeh, gak perlu ngersulo," rekannya menjawab. Terjemahannya begini: disyukuri saja, mau bagaimana lagi. Gusti Allah sudah atur semuanya, tidak perlu mengeluh.
Saya melambatkan jalannya kaki untuk bisa menangkap dialog itu. Diam-diam saya lirik, mereka berdua berusia paruh baya.

Kembali ke Sabtu yang itu.
Keluar dari pasar, saya menenteng tas belanja, plus rupa-rupa kerabatnya. Isi tas adalah cumi-cumi, mujair (rasanya seperti balas dendam setelah sebulan lebih tak ke pasar!), ayam potong, tempe, wortel, sosis, bakso, jagung manis. Sebelah kanan, pisang kepok dua sisir (pisang keju yang kurinduuuu!), kerupuk. Mas Budi geleng-geleng melihat saya datang sambil menjinjing macam-macam.
"Foto duluuu!" Mas Budi mengangkat hapenya. Kebiasaan! Hobi sekali menfoto saya berjalan dari gerbang pasar menuju tempatnya parkir.
"Sebentar. BUnda perlu sandal!" Saya menunjuk toko depan. Belanjaan saya simpan, lalu menyeberang.

"Beli sandal, Mbak." Para petugas toko itu sedang asyik makan pecel.
"Swallow atau biasa?" Salah satu bertanya, masih sambil duduk menghadap makanannya.
"Swallow."
Si Mbak bangkit dan menarik keranjang dari bawah meja. Lalu meninggalkan saya memilih. Dia asyik lagi dengan pecelnya. Saya mengambil satu bungkus sandal merah, mengamati nomor, dan mencoba sebelah kiri. Pas, ini saja deh.
Saya menuju kasir. Bapak kasir (sepertinya owner toko ini) duduk di bangku bawah pohon, makan pecel juga. Saya membayar, dan pergi.
Di rumah, saat hendak masak, saya pakai sandal itu. Sambil berjalan, saya coba masukkan kaki. Kenapa yang kanan terasa aneh, ya? Refleks saya melihat ke arah kaki.
Lhoo, sandalnya kiri semua! Ahahaha.
"Aku tadi mau bilang Bunda," kata Hafidz, yang saya tugasi mengambil sandal dari keranjang. Hihi, piye iki. Mau balik ke pasar, malas ah.

Saya baru ke toko itu lagi, lebih dari sepekan setelahnya. Saya berdiri dekat keranjang, mengamati sandal yang berjajar. Para mbak petugasnya sedang makan bubur. Kenapa momennya mirip ya? Dulu makan pecel, sekarang makan bubur.
"Saya beli sandal di sini, dapatnya kiri semua," kata saya. Mereka melongo. Ajaib, mugkin begitu pikirannya.
"Sekarang dibawa sandalnya?"
"Nggak. Saya mau cari sandal yang kanan saja, saya beli."
"Tapi sandalnya harus dibawa, Bu." Si Mbak ngeyel.
"Mbaaak, sekarang saya cari dulu di keranjangnya, kalau ada sandal yang isinya kanan semua, saya beli." Mereka saling memandang, lalu salah satu berdiri. Menemani saya mengubek isi keranjang. Satu bungkus sandal merah saya tarik isinya. Ahaaaa, kanan semua! Alhamdulillah, hore!
Saya menuju kasir. Daaan, bapak kasir itu duduk di bawah pohon, sambil makan bubur! Pemilik dan penjaga toko kompak nian.
Saya pulang dengan riang. Sandal di rumah akan bertemu pasangan masing-masing. Mereka pasti saling merindukan. Wehehehe.

Ibu Guru Umi, menulis agar bahagia.
ABaTa, 1 Mei 2019, 21.49 WIB.


Note: itu foto toko sandal. Jika ke sana, coba perhatikan, siapa tahu beruntung juga mendapati kekompakan mereka dalam momen makan.

1 komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.