KEMENANGAN IBU MARIA

Senin, November 03, 2014
Saya mendampingi Lomba Debat LKS sejak tahun 2010. Saat itu masih menemani Miss Lidia Nur Utami, alias saya menjadi asistennya. Sebab sungguh, saya tidak tahu menahu apa dan bagaimana lomba debat bahasa inggris itu.

Setahun kemudian, mulailah saya mendampingi dan melatih.

Saat itu, saya melihat beliau, Ibu Maria Magdalena.
Duduk di satu sudut, sendirian. Anak-anak yang dilatihnya tampak santun dan smart.
 

Anak-anak yang saya bimbing berinisiatif mendekati dan menanyakan beberapa hal.
"Itu Bunda, latihannya pakai karantina. Gak boleh pulang, dan tidak boleh bawa hape. Menginap di rumahnya. Katanya, mereka sempat protes karena merasa tertekan," cerita salah satu anak bimbingan saya.


Setahun kemudian, saya berkesempatan berkenalan langsung dan berbincang-bincang.
Hawanya, hawa pejuang. Hawa pelatih penuh dedikasi dan kasih sayang. Saya suka, dan merasa mendapatkan banyak hal ketika berbincang-bincang.
(Sebenarnya, banyak pelatih debat sekolah lain yang juga gigih dan penuh dedikasi. Sebagian besar bapak-bapak muda. Nah, ketika bertemu sesama pelatih emak-emak, berasa ketemu teman senasib... hehehe).

Kemarin, ketika di LKS tingkat Jawa Timur, di Bojonegoro, kami bertemu lagi.
Masih dengan gaya yang sama; sederhana namun penuh sentuhan kasih sayang.

Kami sama-sama masuk ke babak 16 besar. Namun peringkat anak-anak asuhannya jauh di atas kami, sementara kami baru bisa di peringkat buncit.

Ketika akan pulang, setelah babak 16 besar terlewati, saya berpamitan.
"Besok, saya lihat anak-anak Ibu di sana," saya menunjuk panggung. Di panggung itu, battle final akan diadakan.

Entah kenapa, saya yakin mereka akan menang.

Dan biidznillah, atas kehendak Allah SWT, mereka menang, sebagai juara satu tingkat Jawa Timur.
Suatu hal yang sangat pantas mereka dapatkan. Mengingat dedikasi dan perjuangan Ibu Magda (begitu saya memanggilnya) selama bertahun-tahun.

Hadiah yang indah. Selamat, Ibu... Semoga saya bisa meniru semangat dan dedikasi Ibu dalam melatih dan membimbing.

Dan inilah tanggapan Bu Maria Magdalena atas tulisa saya itu:
Speechless ..... I;m honoured, mrs Umi Kulsum ..
Tulisan di atas sangat istimewa bagi saya bkn krn sanjungannya, tp krn diucapkan oleh seorang wanita lembut dan cantik luar dalam . Yang pada saat saya merasa begitu tidak pasti (ketika berusaha menyakinkan para debater bhw yg perlu mereka lakukan adalah showing their best, sementara saya sendiri lelah jiwa dan raga), beliau memegang tanganku dan berkata "besok, saya lihat anak-anak ibu di panggung final itu". Ucapan tulus. dan itu menantang bagi saya pribadi, karena beberapa minggu sebelumnya saya harus bergelut menyakinkan debater2 saya untuk menjaga teamwork yg solid, dan Lks Bojonegoro ini menurut saya sangat berat karena kami sempat ada masalah teamwork..... mendengar kata "final" jujur saat itu adalah sesuatu yg jauh dari angan2 karena kondisi yg lemah. tapi saat kutatap mata beliau, dalam hati saya berbisik "Tuhan, trimaksih sudah Kau kirimkan malaikatmu untuk menyemangati aku hari ini." Tatapan itulah yg memberi saya kekuatan untuk berkata "Amiin."... dan kami pun dengan berpacu di babak2 selanjutnya.... dan ketika secara mengejutkan kami dinyatakan masuk final, ketika bersyukur kepada Tuhan, wajah my angel (itu julukan yg aku buat wanita bermata lembut itu) yg pertama kali terlintas dalam pikiranku ... dan saat kami dinyatakan sebagai juara tahun ini, saya bersyukur dan teringat bagaimana Tuhan telah tempatkan sederetan orang2 hebat di balik kemenangan ini .... deepest thanks buat bunda @umi Kulsum, pak @edy kepanjen, pak @yu smk4, pak Daniar Jauhar Alam, pak jody kdr .... We owe u much ...

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.