ANAK DARI LONDON

Jumat, Desember 25, 2015


(lupa kapan dimuatnya.. ah!)


“Whuaaa... whaa...”
Siapa yang menangis begitu kerasnya?  Ziza mencium tangan  dengan Ibu sambil menoleh kesana kemari.  Cepat-cepat Ziza berlari menuju kelasnya.
“Siapa sih yang menangis?” tanya Ziza pada  Fanti, teman sebangkunya.
“Anak baru, kelas satu.  Eh, katanya dia dari London, lho!” Fanti mengatakan dengan semangat. London? Wow, pintar bahasa inggris dong!
“Ayo, kesana!” Fanti menyeret  Ziza cepat-cepat. Ternyata sudah banyak anak yang berkerumun di depan kelas satu.  Ziza memperhatikan anak baru itu. Badannya pendek, gemuk. Kulitnya putih sekali.  Sebenarnya cantik. Tapi  karena lagi mewek begitu, jadi jelek!  Ziza jadi ingat dirinya kalau sedang menangis. Hihi,  pasti  sama jeleknya!
Bu Indah,  wali kelas satu, tampak berusaha membujuk. Tapi tangisannya semakin kencang. Ketika bel masuk berbunyi, kerumunan  bubar.  Semua berlari ke depan kelas masing-masing.
“Ziza, tolong ambilkan catatan tabungan  kelas 5 di kantor!” pinta Bu Eri , wali kelas 5, setelah doa pagi.  Ziza berlari menuju kantor. Ketika hendak  kembali  ke kelasnya, Ziza melihat anak baru itu duduk sendirian di depan kelas. Sepatunya tergeletak  tak beraturan di depan teras. Seperti habis ditendang jauh-jauh.
“Hai..,” Ziza memberanikan diri menyapa. Anak itu mengangkat kepalanya, menatap Ziza.
“I am Ziza. What is your name?” Ziza bertanya lagi. Susah payah Ziza berusaha mengingat-ingat  kalimat-kalimat yang dipelajarinya waktu les bahasa inggris. Anak itu menjawab lirih. Tidak jelas apa yang diucapkannnya.
“What?” kata Ziza. Ziza tahu kata-katanya bisa saja salah.  Tapi tidak ada salahnya mencoba, bukan? Yang penting  anak itu mengerti.
“ I am Hana.” Aha! Akhirnya terdengar juga suaranya. Ziza senang sekali karena merasa ditanggapi.
“Why you not go in class?”  Hihi... Pasti  ada yang salah lagi!  Buktinya Hana tersenyum-senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Seperti mentertawakan Z iza.
“Let’s go to my class!” ajak Ziza. Sebetulnya dia tidak sungguh-sungguh mengajak Hana. Hanya basa-basi saja.
“OK!”  Hana tiba-tiba bangkit.  Memungut sepatu dan memakainya. Waduh, ikut betulan, nih? Gawat!  Hana membuntuti Ziza. Ziza jadi merasa bersalah. Bagaimana bila  Bu Eri marah?
                Anak kelas 5 jadi gaduh melihat Ziza masuk bersama Hana. Hana tersenyum malu-malu. Dia berdiri di belakang Ziza  seperti minta perlindungan.
“Hana, kenapa tidak masuk kelas?” tegur Bu eri.
“Maaf, Bu, Ziza  yang ajak. Sebenarnya  tidak sungguh-sungguh mengajak, tapi Hana mau...,” kata Ziza. Teman-temannya tertawa mendengar ucapan Ziza. Bu Eri tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Ayo, Hana. Ikut Ibu ke kelas satu!” Bu Eri mengacungkan telunjuknya, memberi isyarat angka satu. Bu Eri juga menjulurkan tangannya,mengajak Hana keluar. Hana  mewek, mau menangis.
“No...No...No...,” katanya sambil  menggeleng-gelengkan kepalanya . Bu Eri  tampak kebingungan.
“Bu, bagaimana kalau Hana  disini dulu sampai istirahat? “ usul Ziza. Bu Eri akhirnya setuju setelah berdiskusi dengan Bu  Indah, wali kelas satu.  Bu Indah juga meminta tolong Ziza untuk membujuk Hana kembali ke kelas satu setelah istirahat.
                Hana duduk bersama Ziza. Ia memperhatikan Ziza mengerjakan soal matematika. Hana membantu merautkan pensil Ziza yang putus.  Ziza meminjamkan buku ceritanya pada Hana.  Hana membaca sekilas, kemudian mengembalikannya.
“Why? You not understand?” tanya Ziza. Hana  mengangguk. Ziza memberinya buku lainnya. Buku cerita dua bahasa, bahasa inggris dan bahasa Indonesia.
                Saat  istirahat, Ziza membawa  Hana   ke kantin. Hana membeli pisang coklat. Ziza mengajak Hana duduk di  beranda  depan kelas  satu.
“Hana nanti kembali ke kelas satu, yaa? Back to your class. OK?” bujuk Ziza. Hana diam saja.
“Boleh bawa buku cerita ini. Bring this... bring this, OK!” susah payah Ziza berusaha membuat  Hana mengerti. Tangan Ziza menunjuk-nunjuk buku cerita yang ada di tangan Hana. Teman-teman Ziza yang mendengar cara Ziza berbicara tertawa-tawa. Hana ikut-ikutan tertawa. Oh, senang melihat Hana tertawa. Apalagi  setelah istirahat, Hana mau masuk ke kelasnya. Ziza lega sekali.
                Setelah makan siang, Ziza menemani Hana lagi. Mereka berdua duduk-duduk di bawah pohon, bercanda bersama teman-teman  Hana.  Hana hanya menjawab pertanyaan teman-temannya dengan senyuman, anggukan,  dan gelengan. Ziza membantu menterjemahkansedikit- sedikit. Lumayan, Ziza punya teman untuk praktik bahasa inggris.
 Bu Indah  memandang dari pintu kelas satu sambil tersenyum dan mengacungkan jempolnya. Ziza membalas seyum Bu Indah. Senang rasanya bisa membantu Bu Indah  hari ini. Besok Ziza akan membawa koleksi buku cerita dua bahasanya.   Ziza akan membantu Hana menyesuaikan diri. Semoga Hana betah sekolah disini.
               

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.