PERJALANAN PERTAMA NAMIB

Jumat, Desember 25, 2015


                “Semua ada aturannya,” nasehat Mimi   dulu.
                “Patuhi  aturannya,” pesan  Pipi kemarin.
                “Jangan pernah melanggar aturan!” tegas  Mimi tadi malam.
                Namib  lama-lama bosan mendengarnya. Dari hari ke hari, Pipi dan Mimi mengingatkan terus menerus tentang aturan.
                Namib adalah semut gurun yang tinggal di bawah gurun pasir bersama orang tuanya, Pipi dan Mimi. Mereka bertetangga dengan ribuan semut gurun lainnya.  Setiap hari Pipi dan Mimi   keluar mencari makanan bersama  semut pekerja lainnya.   Namib belum pernah diajak karena ia masih kecil.
                “Kapan aku bisa ikut Pipi dan Mimi?” rengek Namib.
                “Tunggu saat yang tepat, Namib. Semua ada waktunya,” jelas Mimi.
                “Perjalanan di gurun pasir itu berat,” terang Pipi. “Udaranya yang panas membahayakanmu.”
                “Aku pasti bisa. Aku kan kuat seperti Pipi!” Namib terus merengek.
                “Tidak semudah itu, Namib. Perjalanan itu sangat panjang dan melelahkan,” Pipi berusaha menjelaskan lagi.
                “Pipi bisa mengandalkanku!” Namib masih berusaha meyakinkan.
                “Baiklah, besok kita coba,” akhirnya Pipi menyerah. Horeee, Namib sungguh senang sekali.  Sayang sekali, ketika Pipi memberikan penjelasan tentang perjalanan di gurun pasir, Namib tidak banyak mendengarkan. Ia sibuk membayangkan petualangannya besok. Malam itu, Namib tidur lebih awal. Ia begitu bersemangat sehingga ingin cepat-cepat bertemu pagi.
                Ketika pagi menjelang, Namib telah siap  di mulut lubangnya. Pipi  berdiri di depannya, Mimi  ada di belakangnya.
                “Sekarang, Pi?” tanya Namib tak sabar.
                “Tunggu, Nak. Kita tunggu hingga suhunya tepat,” Pipi sabar menjelaskan.
                Pada suhu tiga puluh derajat, Pipi mulai keluar. Namib mengikuti dengan riang. Ia berusaha berjalan dengan gagah. Tapi Namib kesulitan berjalan lurus. Ia terseok-seok, berjalan sangat payah. Tubuhnya terasa dingin.
                “Piiii!” Namib berteriak ketakutan. Mengapa jalannya begini? Apakah ia sakit?
                “Tahan, Namib… Nanti  jalanmu bisa lurus juga!” Mimi menyemangati. Namib menoleh kea rah Mimi. Lihat, Mimi juga berjalan terseok-seok seperti dirinya. Namib semakin bingung.
                Tapi lama-lama, ketika suhu udara mulai meningkat, Namib dapat berjalan lurus kembali. Bahkan jalannya terasa  sangat ringan dan cepat.
                “Kenapa tadi berteriak-teriak panik  begitu?” tanya Mimi.
                “Aku takut,” kata Namib malu.
                “Tadi malam Pipi sudah menceritakan tentang bagian itu. Apa kau lupa?” Pipi menatapnya tajam. Namib diam menunduk. Ia tidak berani mengaku bahwa semalam ia tidak mendengarkan sungguh-sungguh.
                “Masih jauh kah?” Namib mulai kelelahan.
                “Di ujung sana,” Pipi menunjuk  satu arah,” sebentar lagi kita berhenti.”
                “Kenapa berhenti? Aku ingin jalan saja terus supaya cepat sampai,” Namib mulai membantah  lagi.
                Tanpa menunggu persetujuan Pipi dan Mimi, Namib melangkah cepat-cepat. Tapi baru beberapa langkah, Namib mulai merasa lemas. Kakinya berat, tak bisa diangkat. Kepalanya seperti terbakar. Namib jatuh pingsan.
                Saat  siuman, Namib berada di pangkuan Mimi. Mereka berteduh di bawah batu.
                “Namib tidak dengarkan Pipi semalam, ya?” kali ini Pipi bertanya tegas. 
                “Semalam  Pipi sudah jelaskan  bahwa kita akan berhenti pada suhu tertentu,” lanjut Pipi.
                Namib tidak berani berkata apa-apa. Pipi dan Mimi pasti sekarang sudah tahu bahwa ia tidak memperhatikan aturan Pipi semalam. Kalau Namib tidak bersikap baik sekarang, Pipi dan Mimi tidak akan mengajaknya lagi. Namib tidak mau itu terjadi.
                “Sekarang suhunya sudah enam puluh tujuh derajat, Namib. Jika kita berjalan terus, kita tidak akan kuat,” Pipi menjelaskan lagi. Kali ini Namib mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
                “Bagaimana Pipi tahu?” tanya Namib.
                “Semua semut gurun bisa mengukurnya sendiri  jika sudah sering berjalan.Jangan khwatir, kau juga nanti  bisa,” tegas Mimi sambil memeluknya.
                Ketika suhu sudah turun, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka kembali ke sarang setelah mendapatkan makanan. Namib senang  bisa mengangkat makanan yang jauh lebih besar dan lebih berat dari dirinya. Ia melihat Pipi dan Mimi juga hebat dan kuat.
                Pulang  menuju sarang  tidak seberat seperti ketika berangkat  pagi tadi. Namib juga  belajar banyak dari perjalanan pertama hari ini.   Pelajaran terpenting adalah:  peraturan perlu diperhatikan untuk keselamatan!
               

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.