KESALAHAN HERCULES

Minggu, Desember 03, 2017



Sekitar dua pekan lalu, saya menonton film. Tentang Hercules. Menontonnya tidak serius, sebab banyak baca buku daripada melototin jalan ceritanya.

Intinya, tentu saja, tentang Hercules. Yang menarik adalah percakapan antara Hercules dan King Eurystheus, seorang raja yang bersekongkol dengan Lord Cotys. Lord Cotys adalah bangsawan yang menawarkan harga tinggi bagi Hercules dan gengnya jika bersedia melatih pasukannya melawan pemberontak.

Sebelumnya, Hercules mengabdi pada King Eurystheus. Namun kematian isteri dan anak-anak mengubah segalanya. Isteri dan anak-anak terbunuh oleh serigala berkepala tiga yang disebut Cerberus. Hercules disalahkan atas tragedi itu, King Eurytheus bermaksud menangkap Hrecules dan membunuhnya. Hercules berhasil kabur bersama para sahabat.

Nah, Hercules ditangkap oleh Lord Cotys. sahabat-sahabatnya dipenjarakan, Hercules diikat dan disiksa. Saat itu muncul King Eurystheus. Hercules terkejut mengetahui bahwa ia berada di belakang semua tragedi yang dialaminya, termasuk terbunuhnya keluarga.

Percakapan antarkeduanya menarik. Saya lupa persisnya, saya ilustrasikan semampu saya ya.

"Aku ingat... Kau memberiku minuman yang membuatku tak sadarkan diri, lalu kau bunuh anak dan isteriku?" teriak Hercules kecewa.
"Ya, seandainya saja kau dengar teriakan mereka saat diterkam serigala itu..." King Eurytheus tertawa sinis. Hercules meradang. Gelang-gelang besi itu berderak sebab kemarahannya.
"Rakyat lebih memujamu. Mereka mendengarkan perkataanmu, lebih memperhatikanmu daripada memperhatikan sabdaku. Mereka lebih menghormatimu dari pada menghormati aku, raja mereka!"
"Aku tidak mengharapkan apa-apa! Aku tidak berambisi apa pun!!" (Bagian ini, saya ingat demikian adanya!)
"Justru itu kesalahanmu!! Kau tidak berambisi! Orang yang tidak berambisi tidak bisa dibeli! Tidak seperti dia!" King Eurytheus menunjuk Lord Cotys.

"Aku sudah membunuh karaktermu. Rakyat sekarang tidak lagi mencintai dan memujamu. Aku berhasil membuat mereka membencimu!" kata King Eurytheus.

Sudah, sampai disitu saja.

Beberapa hal saya garisbawahi dengan sungguh-sungguh.

Pertama, ada kekuasaan de jure, ada kekuasaan de facto. Kekuasaan pertama, kekuasaan yang sah, legal. Kekuasaan kedua, adalah kekuasaan yang tidak dinisbahkan pada legalitas. Bisa jadi ada ornag yang secara de jure berkuasa, secara de facto juga demikian. Artinya, dia sah secara hukum sebagai penguasa, dan bawahannya juga mendengar dan menganggapnya sebagao penguasa.
Ada juga yang secara de jure berkuasa, tapi secara de facto, diabaikan oleh bawahannya. Dikacangin, gak digape. Bisa jadi sebab dianggap gak mampu, atau sebab faktor tidak dipercaya.
Ada yang secara legal tidak memiliki kekuasaan, tapi petuah dan titahnya didengar, diakui, dan dihormati. Ibaratnya, dia raja tanpa mahkota.

Kedua, penguasa jenis de facto itu, menjadi ancaman bagi penguasa de jure yang tamak dan dengki. Tamak dan dengki membuat orang berwatak cupet, memandang kelebihan dan kekurangan sebagai menang kalah.
Penguasa asli merasa kalah pamor, kalah tenar, atau kalah pintar atau kalah ketrampilan. Namun kekalahannya tidak diterima dengan lapang dada. Alih-alih merangkul orang yang lebih baik darinya sebagai partner yang akan membantunya melaksanakan amanah sebagai penguasa, dia melakukan sebaliknya.
Kedengkian mendorongnya untuk melakukan hal lain: membunuh karakternya!
Lakukan intrik. Fitnah dia. Tuduh dengan semena-mena. Mata-matai. Awasi tindak tanduknya. Gunakan kekuasaan sebagai wewenang untuk menghancurkannya.

Kesalahan Hercules hanya satu: ia tidak berambisi.
Orang pintar, memiliki kelebihan, didengar pendapatnya, tetapi tidak berambisi, adalah ancaman besar. Semakin dia tidak berambisi, semakin tampak kebaikannya. Orang yang tidak berambisi cenderung berpikir lurus. Dia tidak sibuk mengejar jabatan atau posisi, yang dilakukannya adalah melaksanakan amanah sebaik-baiknya. Posisi atau promosi jabatan bukanlah tujuan.

Di mata orang tamak dan dengki, tipe sejenis ini adalah ancaman. Dia adalah rival yang tak boleh disepelekan dan bisa menjadi sandungan. Apalagi jika si tamak dan dengki ini tidak memiliki kapasitas sepertinya. Kedengkiannya semakin meliuap-luap. Maka jangan heran, jika hal-hal keji bisa dilakukannya.
Membunuh karakternya, lakukan saja. Cari celah kelemahannya, jadikan ia sebagai senjata untuk menjatuhkan.
Temukan momen kesalahannya, blow up dan munculkan. Bisa jadi kesalahan itu juga dilakukan oleh orang lain, tapi orang lain itu sama sekali tidak penting. Orang lain itu bisa dimaklumi dan dimaafkan. Sedangkan dia, libas saja.

Diskusi sejenis pernah dilakukan bersama teman-teman. Muncul pertanyaan begini: "Ada si fulan yang juga melakukan hal sama, kenapa dia tidak disoal?"
Jawabannya sederhana: "Sebab dia bukan sasaran tembak!"

Pernah menemukan situasi demikian?
Ingat-ingat saja percakapan Hercules dan King Eurytheus.
Dialog itu sederhana, namun menunjukkan kerumitan sisi buruk manusia. Yaitu tamak dan dengki, yang terkumpul dalam ambisi.




Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.