BULAN BAHASA: SANTUN BERBAHASA (BAG 2)

Selasa, Oktober 16, 2018



Kesantunan berbahasa banyak terbukti di jalan raya. Itu kata saya, lho. Di jalan raya, watak asli manusia akan muncul. Sebab di jalan rayalah refleks manusia sering muncul.

Contoh pertama, seorang remaja yang naik motor, melesat menyalip mobil putih. Dia melejit dari kanan, kemudian zigzag di depan mobil putih tersebut. Tiba-tiba mobil putih itu melajukan kendaraan dengan cepat, mengejar motor tadi. Dua kendaraan itu sama-sama meraung, melesat cepat. Saya tidak tahu sampai mana mobil itu mengejar motor. Saya menebak, pengemudi mobil itu terkejut dan marah dengan  motor yang ugal-ugalan.
Kali lain, dari perempatan, saya melaju lurus, kea rah tempat mengajar. Sebab jarak sekolah dengan perempatan itu hanya sekitar 50 meter, saya mangambil jalur kanan, dan memberi tanda sein untuk belok kanan.
Tiba-tiba seorang bapak muncul dari arah kanan, sepertinya hendak menyalip. Saya tetap di kanan, sebab gerbang sekolah sudah di depan.
“%$#@%$!!”  Bapak itu mengumpati saya. Astaghfirullah. Saya diam saja.Si bapak melerok  dengan sinis, saya cuma tersenyum manis. Hehehe.
Hal sama terjadi di depan gang rumah. Dua remaja mengumpat keras-keras pada pengendara lain.  Kasar dan …menyebalkan!

KONTEKS
Kesantunan tu bergantung konteks juga.
Ada standar kesantunan di satu tempat yang berbeda dengan standar di tempat lain.
Misalnya, dalam Bahasa  Jawa, dahar itu halus. Sementara di Sunda, dahar itu kasar dan ngoko.
Konteks demikian perlu dipahami agar proses komunikasi berjalan dengan baik dan tidak timbul salah paham.

FAKTOR KETIDAKSANTUNAN BAHASA
Ada beberapa faktor yang menyebabkan ketidaksantunan bahasa. Menurut ahli bahasa, penyebabnya antara lain:
  1. Kritik secara langsung dan kasar. Tindakan ini dapat mengakibatkan ketersinggungan pihak lawan. Dalam sebuah forum rapat, saya mendapati seorang peserta mengungkapkan masalah printer yang rusak dan menyebut satu nama yang ditengarai  memakai sebelumnya. Saya  terkejut. Persoalan itu tidak layak diangkat dalam forum dengan cara demikian. Akan lebih ahsan jika dibahas secara personal, duduk bersama. Betapa malunya orang yang disebut namanya secara lansung itu. Dan betapa tidak bijaksananya si penyebut nama tersebut. Semoga terhindar dari sikap demikian.
  2. Dorongan rasa emosi si penutur. Emosi bisa berupa kemarahan, kebencian, dan prasangka yang berlebihan. Dalam satu rapat besar, seorang Bapak tidak terima dengan system penilaian baru yang didasarkan pada data mengajar yang dilaporkan oleh siswa. Bapak tersebut mengacungkan kertas laporan dirinya dengan tangan bergetar, lalu berteriak: “Ini tidak adil. Ini pasti punya maksud lain!” Suasana cukup gaduh. Emosi Bapak tersebut menyulut komentar di sana sini. Rapat yang dihadiri orang-orang dewasa itu gagal menampakkan sisi kedewasaan pesertanya. Emosi dan kemarahan centang perenang, memicu watak-watak negative lainnya. Seperti buruk sangka, berkata-kata kasar dan membentak-bentak. Sayang sekali.
  3. Protektif terhadap pendapatnya sendiri, bertujuan untuk membuat lawan tutur tidak dipercaya oleh pihak lain
  4. Sengaja menuduh lawan tutur, mengedepankan kecurigaan yang disampaikan secara terang-terangan. Saya pernah mengalaminya, ketika gerakan tidak menyontek di sekolah dituduh sebagai ‘mengajarkan kemunafikan’. Gemetar badan saya dituduh secara terang-teranan di depan seratus sekian orang. Emosi saya meledak. Alhamdulillah, ada kesempatan klarifikasi bagi saya. Dan alhamdulillah,  diberi kekuatan untuk menyampaikannya tanpa kemarahan yang meluap-luap. Tugas menjelaskan sudah dilakukan. Terserah siapa pun yang mendengar. Tidak ada keinginan untuk ‘mencari sekutu’; yang paling penting, yakinlah akan kebenaran pilihan sikap ini. Kita dinilai dari apa yang dilakukan, bukan dari apa yang orang lain nilai. Lanaa ‘amaluna walakaum ‘amalukum. That was enough.
  5. Sengaja memojokkan mitra tutur, dilakukan untuk membuat lawan tutur tidak berdaya. Dalam acara ILC, sering kita temui nara sumber yang memiliki kesantunan bahasa yang rendah. Diksinya kasar dan menjatuhkan lawan. Kalimat-kalimat sarkas dilontarkan untuk membuat lawan tutur gelagapan, dan tidak punya kesempatan yang banyak untuk menjelaskan. Ini contoh menyedihkan yang disuguhkan oleh elit yang berpikir dangkal dan berjiwa kerdil. Tidak peduli bahwa konten bicara mereka buruk dan rendah (karena logika yang cacat sebab miskin data dan hanya memainkan prasangka). Tidak peduli bahwa cara mereka bertutur menampakkan body-language yang norak dan jauh dari kesopanan. Yang penting tujuan  menjatuhkan lawan tercapai.

Kesantunan bahasa erat kaitan dengan penerapan akhlaq dalam diri. Perlu dilatih agar ketrampilan menahan diri, memahami situasi, dan merespon segala sesuatu dengan baik. Bekali anak-anak dengan sebaik-baikanya. Bekal yang paling membekas adalah contoh atau tauladan dari orang tua. 
Yuk, santun berbahasa.

Ibu Guru Umi, menulis agar bahagia.
Selasa, 16 Oktober 2018, 21.15 WIB

1 komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.