KELINCI, POHON DAN BADAI

Rabu, April 24, 2019
Keluar dari kelas X MM 3 pagi ini, saya melewati lapangan basket. Pukul sembilan pagi. Di lapangan basket ada Pak Ridho, guru olah raga muda yang enerjik. Masih bujang. Dia pernah buat status, jangan tanya kapan nikah, tanyakan saja kapan jalan-jalan. Yang mau ta’aruf, bisa tanya saya. Terima jasa mak comblang. Eh.
Saya tertarik untuk berhenti. Duduk di tepi lapangan, saya mengeluarkan ponsel dan mulai merekam keseruan. Waktunya rehat. Sebelum kembali duduk di ruangan, menyaksikan kegembiraan anak-anak itu selingan yang menyegarkan pikiran.

Anak-anak itu sedang bermain. Masing-masing berkumpul bertiga. Dua berdiri, saling berpegangan tangan, disebut pohon. Satu lagi berjongkok di tengah, disebut kelinci.
Satu orang ‘jadi’, alias ‘jaga’. Dia harus lari keliling dahulu, mengelilingi lingkaran teman-temannya itu, baru menuju titik di tengah.



“Kelinci!”
Para kelinci, yang berjongkok itu, melesat mencari pohon baru. Mereka semburat sambil berteriak-teriak. Biasalah, perempuan. Jika melakukan sesuatu yang heboh, maka suaranya juga akan ikut heboh. Melengking sambil tertawa terbahak-bahak. Yang jadi, melesat memasuki satu pohon yang tak bertuan. Tersisa dua pohon kosong. Tiga orang berburu tempat, entah mengapa merteka menuju pohon yang sama. Done! Satu berhasil menyusup dengan cepat, mengalahkan dua lainnya. Lalu dua orang sisanya terbirit-birit lagi ke pohon lain.. Satu tertinggal. Tergelak-gelak mereka meledek yang jadi.
Kembali, yang jadi berlari keliling lapangan, lalu bersiap meneriakkan kode.
“Pohon!”
Teriakan itu melesatkan para pohon. Terbirit-birit, dengan masih bergandengan tangan, mereka mencari kelinci-kelinci yang jongkok tak bergerak. Eh, ada kelinci yang melompat, eh, lari ke pohon lain.
“Hey, itu...itu kelinci diam saja, jangan lari!” Pak Ridho berteriak dari tepi lapangan. Hihi, kelincinya ikut panik!

Yang jadi bersiap kembali setelah lari keliling.
“Badai!”
Semburatlah para kelinci dan pohon, melesat ke sana ke mari. Teriakan-teriakan membahana. Wajah-wajah geli, campur panik, campur senang, campur bingung. Gado-gado. Saya terkekeh melihat serunya permainan itu.

Pelajaran olah raga ini adalah selingan segar bagi para siswa. Sepekan sekali, diantara 55 jam pelajaran yang dilesakkan dengan padat, ada dua jam waktu refresh.
Sebab itu, saya sering memberikan tahniah pada anak-anak yang menyapa saya saat mereka hendak berolahraga. Saya sering bilang: “Selamat bersenang-senang!”
Nah, di kurikulum 2013 revisi terakhir, mata pelajaran olah raga bagi siswa kelas XII dihapuskan. Aih, kasihan. Tak ada waktu khusus yang disediakan untuk bergembira, bergerak dan bermain bersama. Sementara mereka perlu diberi ruang dan waktu menggerakkan fisik dalam suka cita.
Bay de way, E-sport yang dimaksudkan oleh pemerintah itu, seperti apa implementasinya di sekolah ya? Semoga tidak seburuk yang dikhwatirkan banyak orang.

Secanggih apa pun e-sport, rasanya kalah seru dan tidak sesehat kelinci, pohon, dan badai!

Ibu Guru Umi, menulis agar bahagia.
Di sekolah, 24 April 2019, pikul 10.36 WIB

1 komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.