HYPOKALEMIA

Senin, Desember 04, 2017



Malam Ahad, tiba-tiba mendengar kabar meninggalnya kakak sahabat kami, Bu Anna Widyastuti, our angel. Bu Anna yang sabar, pendiam, dan tidak usil. Itu sebabnya disebut our angel di kalangan anggota Beb. Kalau para anggota Beb diserang wabah ke-jail-an, maka hanya bu Anna dan Bu Dewi yang imun. Tetap cool, baik hati, dan rajin menabung.

Sebenarnya berita meninggalnya Bu Juli, nama kakak Bu Anna, sudah beredar di group WA Pustakawan Jombang, sejak ba'da dhuhur. Kebetulan almarhumah dulua dalah pustakawan SMPN 2 Megaluh. Namun, saya terlambat membuka WA sehingga baru sore hari mengetahuinya.
Rumah duka di jalan Gubernur Suryo. Ba'da Ashar, saya melintasi jalan Gubernur Suryo, namun tidak menemukan tanda bendera yang lazim ada di rumah duka. Ternyata rumah duka ada di sebelah timur, sementara saya melintas ke arah barat.

Malam hari, setelah maghrib, saya meluncur menuju rumah duka. Agak kesulitan mencari. Sebab lagi-lagi saya berpatokan pada bendera putih. Bendera itu tidak ada di mulut gang IV. Bahkan di mulut blok juga tidak ada tanda-tanda apa pun. Beruntung saya bertemu wali murid ABaTa yang juga akan takziyah.

Di rumah duka, saya sempat mendengar penjelasan sekilas dari suami almarhumah. Menurut beliau, Bu Juli disarankan untuk dirawat sebab sudah tidak mampu mengangkat lengannya. Dikhawatirkan stroke, maka almarhumah diminta dokter untuk rawat inap.
Lalu Bu Anna muncul. Dari beliau saya mendapatkan cerita mengenai hypokalemia ini.

Almarhumah memang menderita penyakit ini, yang diketahui sejak setahun lalu, bulan Desember 2016. Ada masalah dengan pencernaan sehingga tubuhnya lambat menyerap kalium. Gejala yang muncul pertama adalah tidak bisa berjalan, sulit bangkit dari duduk sebab seluruh badan lemas. Kadar kalium dalam darahnya demikian rendah saat itu, sehingga beliau sempat koma dan dirawat di ICU selama dua pekan (kalau tdiak salah).
Terapi selanjutnya sebenarnya mudah. Banyak-banyak minum air degan (kelapa muda) atau makan pisang.
Penderita hypokalemia harus benar-benar menjaga kadar kalium dalam darahnya. Kekurangan kalium akan membuat syaraf dan otot mengalami penurunan fungsi. Efeknya sungguh berbahaya. Sebab otot dan syaraf yang tidak berfungsi akan membahayakan kerja organ vital, seperti ginjal, paru-paru, bahkan jantung.

Sejak menderita penyakit ini, almarhumah tidak lagi naik sepeda motor sendiri ke sekolah. Berangkat diantar adik, pulang dijemput suami.
Kamis pagi, 30 November, beliau hendak masuk sekolah. Adiknya melarang, sebab beliau sudah tidak mampu lagi mengangkat kakinya untuk naik ke boncengan.
Almarhumah ke dokter umum keluarga, dan dirujuk ke dokter syaraf. Bersama Ibunda yang juga hendak kontrol, beliau berangkat. Ibunda boleh pulang setelah pemeriksaan, almarhumah harus rawat inap.

"Sebenarnya, saya sudah bilang pada perawatnya, bahwa dia kekurangan kalium dan perlu diberi kalium segera. Tapi tidak cepat ditanggapi," kata Bu Anna.

Qadarullah, setelah semalam dirawat, dokter baru memberikan perintah agar segera memberikan kalium. Kondisi Bu Juli semakin melemah. Fungsi organnya semakin menurun. Bu Juli kesulitan menelan makanan dan minuman, dan
"Mungkin setelah melihat hasil lab, kadar kalium hanya nol koma, baru ngeh. Padahal hasil lab sudah ada sejak semalam," papar Bu Anna.
Sabtu dini hari, beliau koma. Sabtu pagi, sekitar pukul setengah sembilan, beliau wafat.

Saya melihat ketabahan besar pada diri Bu Anna. Menyimak kronologis yang dipaparkan, lalu melihat kepasrahan yang ditunjukkan, sungguh luar biasa.

"Sudah jalannya begini. Saya tidak mau bertengkar dengan mereka mengenai penanganan," katanya.

Ini pelajaran pertama. Sudah jalannya. Sudah disuratkan di lauh mahfudz, beginilah caranya menjemput takdir. Kepasrahan model begini, adalah kepasrahan yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sabar.
Walaupun Bu Anna dan keluarga pasrah, kejadian ini semoga menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Kecekatan dan kehati-hatian penanganan perlu ditingkatkan lagi.

Kedua, betapa Maha Luas ilmu Allah. Satu bagian kecil dari tubuh manusia, tidak terpenuhi dengan baik, kacaulah fungsi organnya. Kompleksitas yang sungguh mengagumkan.
Diciptakan zat yang berguna bagi otot dan syaraf, dan diciptakan pula tumbuhan yang menyediakannya. Pisang, alpukat, air degan. MasyaaAllah. Keseimbangan yang indah dan saling bertaut.


اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (QS. Az Zumar [39]: 62).

Maha Benar Allah dengan segala firmanNya.




4 komentar:

  1. aku baru tahu kekurangan kalium bisa sefatal itu

    BalasHapus
  2. wah aku baru tahu lho mbak tentang penyakit ini....ternyata gampang banget ya sebenarnya obatnya hanya minum air kelapa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul... Syaratnya kudu telaten, ya Mba. Kata 'kekurangan kalium' seolah-oalh simpel, biasa, dan ringan. 'Rasa'nya sama dengan kurang zat besi, kurang kalsium....
      Ternyata efeknya luar biasa....

      Hapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.