SHUBUH YANG TUNDUK (BAGIAN 2)

Minggu, Oktober 07, 2018


Juned agak malu. Lemah sekali perasaannya saat itu. Hanya masalah kucing mati saja, dia bisa oleng . Namun ada ketenangan lain yang menyusup pelan bersamaan dengan perenungan. Seperti muncul jalan terang di depan sana. Gambaran apa yang akan dikejar, dan mengapa layak diburu. Setelah kejadian itu, Juned sedikit pendiam. Sedikit saja, namun cukup membuat Warto heran. Warto tidak bertanya apa-apa. Masih tetap memaksa-maksa Juned shalat shubuh berjamaah. Juned ikut dengan lagak seperti biasa, walau jauh dalam hatinya, dia memiliki kemantapan lebih dari sebelumnya. Shubuh berjamaah bukan lagi tekanan, namun kerinduan. Juned membawa sarungnya sendiri. Juga baju ganti, sebuah batik yang dibeli di pasar Legi.
Kucing mati itu juga membuat Juned lebih hati-hati bekerja. Dia berupaya memenuhi tugasnya dengan usaha terbaik. Sebelumnya, Juned kerap meninggalkan beberapa tumpukan daun atau sampah begitu saja. Apalagi menjelang pukul lima, Juned terburu-buru. Ia khawatir tertinggal jatah makan di warung Bali Tersenyum, depanTAman Makam Pahlawan. B ersama Warto ia mendapat sarapan gratis sepekan tiga kali dan dibatasi hingga pukul setengah enam. Sebab pemilik warung akan tutup pukul enam pagi.

Kamis pagi, Warto menyodorkan undangan. Separuh kertas hvs, dengan lekuk-lekuk lusuh.
“Pengajian, Jun. Di masjid Jami’. Gus Afif, dari Rejoso. Melu yo, karo aku.” Juned mengiyakan ajakan itu. Berjanji bertemu di bawah joglo alun-alun depan masjid Jami’. Juned memakai baju koko pemberian tetangga RT sebelah, seorang pengacara kondang di Jakarta sana.
Pengacara itu membangun rumah ibunya menjadi rumah megah. Antara rumah dan jalan raya ada sungai selebar sekitar tiga meter. Jembatan penghubung luas, seluas halaman, sehingga dapat digunakan untuk parkir beberapa mobil sekaligus. Pengacara itu sesekali saja pulang. Dia sendiri tinggal di Jakarta.
Setahun sekali, dia mengadakan sunnatan massal dan pengajian akbar. Acara ini berlangsung selama sepekan. Hari pertama pengajian akbar, lalu sunntatan massal. Kemudian berturut-turut orkes dangdut, qasidah lalu kelompok banjari, shalawatan. Pernah pula mengadakan lomba pildacil tingkat sekolah dasar se kabupaten .
Akibat acara ini, jalan utama menjadi pasar kaget. Penjual martabak, persewaan mainan anak, penjaja minuman, penjaja gorengan, keripik, hingga penjual obat. Hiruk pikuknya mampu membuat kemacetan parah. Momen tahunan itu mendatangkan rezeki sampingan. Juned diberi seragam satpam, membantu mengatur jalan raya. Dengan peluit dan tongkat merah, dia merasa gagah.

Setiap sore hari menjelang panggung ditata, Juned mendadak terserang sedih berlebihn. Memandangi sampah berserakan. Walau sudah disediakan banyak tempat sampah besar, para tamu dan pengunjung seolah tak peduli. Tiba-tiba banyak yang buta aksara, tak bisa membaca. Tulisan besar-besar di petunjuk tempat sampah menganggur. Seolah ia tulisan gaib yang hanya bisa dilihat orang sakti saja.
Juned menyapu lokasi panggung dan jalan sekitar. Sebenarnya sudah ada orang-orang dari desa sebelah yang dipekerjakan untuk membersihkan. Juned hanya berniat membantu. Juned sempat bersitegang dengan pimpinan tim kebersihan. Gara-gara masalah sampah bekas makanan. Tim kebersihan membuang di sungai, Juned protes. Perselisihan tidak berlangsung lama sebab sang pengacara turun tangan menengahi.
Di akhir rentetan acara, Juned dan kawan-kawan ikut pembubaran panitia. Jamuan bagi mereka luar biasa. Berbagai kuliner terkenal kota ini dihadirkan, lengkap dengan gerobaknya. Soto pak Sur, tahu campur Lamongan, soto jedhok, lodeh kikil, bakso kota. Diam-diam, para panitia membawa kantung plastik dari rumah. Ramai-ramai mereka membungkusi makanan itu dan membawa pulang.
Seusai acara pembubaran panitia, kembali bertebaran sampah. . Sampah-sampah itu menggerakkannya untuk mencari sapu. Menyeret lidinya ke tanah yang basah sebab tumpah ruah minuman dan kuah makanan.
“Walau seragamnya satpam, gayanya tetap petugas kebersihan,” Warto tertawa mengejek.
“Risih,” Juned tetap meneruskan menyapu. Warto kemudian turut di sebelahnya. Kejadian itu dilihat sang pengacara kondang itu. Warto dan Juned diberi amplop, isinya menakjubkan. Juga sarung baru dan dua baju koko.
BERSAMBUNG

Note:
Cerpen ini dimuat di Radar Jombang edisi hari Ahad, 7 Oktober 2018.
Bagian 1 disini.
Bagian 3 disini.
Ibu Guru Umi, menulis agar bahagia.

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.