PRINSIP BERBAGI

Minggu, Oktober 31, 2010
Baby Class dan Kelompok Bermain Homeschooling AbaTa diamanahi untuk menampung 6 mahasiswi yang tengah PPL (praktek lapangan). Dari S1 PAUD, UNESA. Tentu mengejutkan bagi saya dan para Bunda, karena selain ABaTa, ada 4 sekolah lain yang  juga mendapat tugas sama. Ke-4 sekolah itu termasuk dalam jajaran sekolah papan atas.
KAmi menerimanya. Dan Sabtu sore kemarin, mereka diundang untuk mengikuti briefing. Dalam briefing tersebut, kami menginformasikan beberapa hal penting. Misalnya, aturan kerja, beberapa standar operasional kerja,  budaya-budaya kerja di ABaTa, dll.
Saya berjumpa dengan teman karib yang  mengikuti program PPL tersebut. Ia ditempatkan di sebuah sekolah top, lembaga terkenal. Kebetulan karib saya tersebut, sebut saja Ibu Erna, adalah seorang direktur lembaga pendidikan juga. Berceritalah dia (ini kutipan bebas, inti ceritanya demikian):
"Kelompok PPL kami ditolak. Ketika mereka mengetahui bahwa saya  dari 'X'.  Tercetus komentar dari lembaga tersebut  bahwa 'X' adalah pesaing mereka..."
Saya jadi teringat pengalaman ketika mendatangi SD Al Hikmah Surabaya. Ini adalah sekolah yang saya kagumi. Bukan karena suami saya bekerja di sana. TApi sejak saya mengenal sekolah ini tahun 2000 (suami bergabung sejak 2003), saya menganggap Al Hikmah adalah sebuah sekolah 'baik'. TAhun 2009, beserta rekan-rekan dari SDIT ARJ, saya kembali berkunjung. Seorang rekan mengajukan pertanyaan penting.
Begini: "AL Hikmah sering sekali dikunjungi orang. Apakah Al Hikmah tidak takut  ditiru, dicontek, oleh lembaga lain?"
Jawabannya adalah: "Tidak apa-apa ditiru. Semakin banyak sekolah seperti Al Hikmah, semakin baik..."
Saya suka jawaban itu. Saya merasakan jawaban itu adalah gambaran tujuan sekolah itu didirikan: menyebarkan kebaikan dan kebermanfaatan  seluas-luasnya.
Tahun 2000, ketika tengah medirikan SDIT AL Ummah, pendiri Al Hikmah bahkan mempersilahkan kami meniru konten brosur mereka, visi, misi, atau apa pun yang bisa ditiru. Dan mereka tidak meminta kami membayar apa pun untuk itu! Saya bisa menelepon sang ustadz kapan saja. Bila kami membutuhkan bimbingan, mereka bisa kami undang dengan mudah. Tanpa menetapkan tarif. Luar biasa, bukan?
Sejak ABaTA berdiri, saya bertekad akan meniru kebermanfaatan yang dicontohkan AL Hikmah. Permohonan magang dari siapa pun, berusaha kami layani. Tanpa biaya. Tanpa persyaratan yang ruwet. Mereka bisa meniru sistem kami. Bisa meniru program kami.  Telah ada satu sekolah di pelosok Jombang yang menerapkan  program-program seperti di ABaTa. Alhamdulillah, semakin banyak yang bisa disebar, akan semakin baik.
Berbagi ilmu, akan menambah ilmu bagi diri sendiri. Bukankah demikian?

1 komentar:

  1. Setuju bu. Semoga Ustadzah dan Crew ABATA bisa diberikan keistiqomahan dalam berbagi. Karena berbagi itu sungguh indah....

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.