PAKAI JILBABMU, NAK!

Sabtu, Desember 02, 2017



Senin pagi, 27 November 2017, ada upacara peringatan hari Guru Nasional di sekolah. Prosesi seperti biasa. Dan seperti tahun lalu, saya menyelipkan diri ke kelompok paduan suara. Bersama Bu Umi Aini, Mamak Nurul Azizah, Bu Dede, Bu Fitri, dll. Sebagian besar kawanan Beb. Kisah mereka disini dan juga sini, yes.

Bukan prosesi hari Guru yang akan saya ceritakan. Sebab prosesi ini lama-lama membosankan. Bukan, bukan saya tidak bersyukur sebagai guru. Tapi sebab prosesi ini tidak berubah dari tahun ke tahun. Masuk dalam group paduan suara adalah salah satu cara menikmati dengan cara berbeda. Nanti kalau bosan lagi dengan cara ini, ya cari cara lain.

DI akhir upacara, ada pengumuman-pengumuman. Salah satunya, diberikan oleh Mamak mengenai proses foto ijazah besok Selasa, 28 November 2017. Bagi siswi kelas XII, tentunya.
Persoalan foto untuk ijazah ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi saya.

Pertama, anak-anak tidak memndapatkan pemahaman yang memadai mengenai regulasi tentang foto ijazah dengan menggunakan jilbab. Mereka masih dihantui dengan ketakutan bahwa pilihan itu akan menyulitkan hidup mereka.
Pendapat jadul dan usang masih dipegang. Konon katanya, jika foto di ijazah berjilbab, mereka akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Mungkin sebab akses informasi dan pengalaman yang jauh dari cukup. Belum ketemu banyak orang, belum melihat atau diberitahu secara langsung bahwa itu sama sekali bukan masalah. Belum bertemu dan melihat langsung orang-orang yang telah memutuskan tetap memakai hijabnya di ijazah dan hidupnya baik-baik saja. Tetap bisa melamar pekerjaan, tetap bisa bekerja dan berkiprah. Bahkan banyak juga yang memegang posisi strategis.

Kedua, pemahaman bahwa memakai jilbab di foto ijazah itu menyulitkan mereka mendapat pekerjaan. Ini pemahaman yang berbahaya, sebab menyentuh persoalan aqidah.
Berjilbab adalah kewajiban. Syariat tentang itu telah ditetapkan secara langsung dalam Al Quran. Setiap syariat yang ditetapkan pasti membawa kemaslahatan bagi umat manusia. Fungsinya sebagai pemelihara kemaslahatan agama, pemelihara akal, pemelihara jiwa, pemelihara harta benda, dan pemelihara kehormatan.

Persoalannya, sebab pemahaman yang dangkal tentang agama sendiri, kerap ditemukan orang yang ketakutan dengan kata-kata syariat. Seolah-olah syariat identik dengan kekejaman, kengerian, sebab yang terbayang adalah hukum potong tangan, hukum rajam, dll. Padahal syariat mencakup seluruh aspek, mulai dari akhlaq, muamalah, bukan cuma hudud, atau perkara pidana saja.

Senin itu, ada beberapa kelas yang belum mendapatkan pengumuman tentang foto ijazah, dikarenakan ketua kelas tidak hadir saat pemanggilan.
Saya masuk ke kelas-kelas tersebut.
Opsi mengenai foto berjilbab saya berikan. Pertanyaan yang muncul di setiap kelas, nyaris sama, walau dengan redaksi berbeda.
"Tidak apa-apa kah Bu, jika foto ijazah berjilbab?"
"Katanya akan sulit mendapat pekerjaan?"
"Untuk melanjutkan sekolah, tidak masalah kan, Bu?"
"Jika foto SD, SMP, belum berjilbab, foto sekarang berjilbab, apakah akan menjadi masalah nanti?"

Saya menjawab pertanyaan itu satu persatu. Adik saya foto ijazahnya berjilbab sejak SMP, SMA, hingga PT, dan dia baik-baik saja. Ijazah PT saya berjilbab, dan saya bisa jadi PNS. Tak ada masalah dengan itu, sama sekali tidak.
Murid-muridku itu perlu diberikan contoh dan pemahaman yang luas, agar tidak terkunkung dengan kekhawatiran yang berlebihan. Kadang ada satu dua orang yang masih juga menghembus-hembuskan ketakutan itu, dan saya menyayangkannya.

Tiba saat sesi pengambilan foto.
Sebagian besar, melepas jilbabnya. Sebagian kecil, memilih mengisi surat pernyataan dan menandatangani.

"Aku takut," kata salah satu siswi.
"Takut siapa?" Mba Iva bertanya.
"Tidak tahu, Bu, pokoknya takut..takut siapa, ya?"
"Takut itu sama Allah!" tandas Mba Iva.
"Oh ya...aduh, tambah takut aku. Wis, bismillah." Siswi itu memutuskan berjilbab dan menandatangani surat pernyataan.

Ada juga yang begini:
"Aduuuuh, tanganku gemetar. Ya Allah, kok ndredeg ya... Bismillahirrahmanirrahiim," dia menandatangani dengan tangan bergetar.

Macam-macam reaksi mereka saat menandatangani surat pernyataan itu. Ada yang tenang, ada yang perlu dikuatkan teman-temannya.
"Bu, bener gak papa, ya?"
"Gak papa."
"Katanya ada pabrik yang tidak mau terima kalau foto ijazahnya berjilbab," kata mereka.
"Kalau ada yang seperti itu, kamu diselamatkan Allah, dari tempat kerja yang tidak barokah," jawab saya.
"Rezeki itu luas, dari Gusti Allah, bukan dari pabrik itu thok. Sing kasih rezeki itu bukan pemilik pabrik, tapi Allah... Gak entuk tekok kunu, pasti dapat dari yang lain," teman di sebelahnya menimpali. Siswi itu manggut-manggut. Saya diam saja mendengarkan. Kadang penguatan dari teman sebaya jauh lebih manjur daripada dari orang yang lebih tua.

Masih panjang jalan menuntun anak-anak ke jalan kebenaran, walau hanya 'sekedar' urusan foto berjilbab di ijazah.
Mungkin ada saja yang menyatakan "Ini cuma sebentar, cuma di foto saja". Statemen itu bisa dibalik logikanya : "Jika dianggap sepele, mengapa tidak bertahan dengan jilbab?"


Pakai jilbabmu, Nak, di selembar ijazahmu sekalipun. Barakallah. InsyaaAllah keputusanmu bejilbab dalam foto ini adalah wasilah datangnya keberkahan dalam hidupmu, setelah lulus dari SMK.


1 komentar:

  1. wah saya dulu juga punya teman sewaktu SMP, dulu sewaktu foto ijazah semua yang berjilbab harus dilepas saat foto, saya juga ikutan lepas juga.
    tapi ada satu teman yang bersikeras untuk tidak melepas kerudung. itu luar biasa banget.
    Untung sewaktu SMA, Foto ijazah tidak mempermasalhkan berkerudung atau tidak, Alhamdulillah

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.