Apakah Ibu tidak sayang?

Senin, November 17, 2008
"Bu, saya sumpek. Ibu saya di rumah marah-marah terus sama saya. Padahal saya sudah berusaha membantunya. Kalau adik saya nangis, selalu saya yang disalahkan. Apakah ibu saya tidak sayang sama saya?"

Tulisan itu dari salah seorang murid saya, di smp. Ditulis di kartu perasaan yang saya bagikan. Ada satu dua kartu lain yang kira-kira isinya hampir sama. Salah satunya bahkan berpikir bahwa dia mungkin bukan anak kandung kedua orang tuanya.

Saya tiba-tiba ingat anak-anak di rumah. Diam-diam saya mencoba merecall memeori. Mengingat-ingat adakah pernah berbuat sesuatu (menyalahkan atau memarahai, misalnya) yang membuat anak saya bersedih dan kemudian berpikir sebagaimana yang dituliskan murid tersebut.

Saya tidak tahu persis bagaimana perasaan anak. Namun memarahi, menyalahkannya atas sesuatu (misal, ketika berebut sesuatu dengan adiknya) pernah dilakukan. Anak pertama saya pernah berkata sambil terisak-isak,"Aku terus yang disalahkan!"

Terus terang, hati saya perih sekali. Sedih dan mengutuk diri sendiri. Menyesal. Tapi sudah menjadi bubur. Rasanya saya tidak berdaya untuk menambal luka hatinya. Saya hanya dapat meraihnya dalam pelukan, menciumnya. Membelai-belai kepalanya.

Memiliknya adalah anugrah. Dia adalah permata. Bagaimana bisa saya menggoresnya dengan pisau tajam dan menyisakan luka?

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.