TAK PEDULI SEKAYA APA

Sabtu, Maret 30, 2019
Koran Republika hari ini, ada satu kolom yang menarik perhatian saya.
Berita tentang meninggalnya Ibu Hajjah Dian Djuriah Rais binti H Muhammad Rais. Nama ini mungkin tidak banyak dikenal. Tapi jika saya menyebutkan 'Masjid Kubah Emas' yang ada di Depok, insyaaAllah banyak yang tahu. Masjid ini fenomenal sebab kemegahan dan keindahannya. Hingga menjadi masjid yang sekaligus sebagai destinasi wisata religi.
Masji Kubah Emas ini bernama asli Masjid Dian Al Mahri. BErdiri di atas tanah seluas 50 hektare, dengan luas bangunan 8.000 meter persegi. Ada lima buah kubah yang semuanya emas 24 karat. Setiap kubah besarnya dikelilingi empat kubah kecil yang juga dilapisi emas setebal 2 - 3 milimeter dan dihiasi mozaik kristal. Lapisan emas tidak hanya pada kubah tersebut. Relief hiasan tempat imam, pagar lantai dua dan hiasan kaligrafi masjid juga dilapisi emas 18 karat. Fantastik dan luar biasa! MasyaaAllah.
Suami almarhumah, Maimun Al Rasyid, menyampaikan permohonan maaf atas kesalahan almarhumah. Dia juga memohon agar masyarakat mendoakan kepergian isterinya. Salah satu permintaan terakhir adalah dishalatkan oleh jamaah masjid Kubah Emas.


Pertama kali saya mulai tahu masjid itu dari berbagai berita, sungguh takjub. Masjid megah, dengan lapisan emas, pasti amat sangat mahal dan menghabiskan dana yang amat sangat banyak. Bagi orang awam dan orang biasa seperti saya, uwow sekali! Duitnya sebanyak apa ya? Kehidupannya semewah apa? Bagaimana gaya hidupnya? Jadi orang kaya pasti asyik, sebab punya kekayaan melimpah ruah, berarti juga punya banyak kesempatan beramal sholih. Seperti yang dilakukan oleh para shahabat Nabi dulu, dalam shirah nabi yang pernah dibaca.

Jadi ingat Ali Banat almarhum. Miliarder asal Australia yang menghabiskan sisa hidup dengan melakukan kegiatan sosial ke seluruh dunia. Ia donasikan kekayaannya untuk membantu muslim yang membutuhkan di seluruh dunia. Penyakit kanker menjadi titik balik perubahan gaya hidupnya. Ia menyatakan bahwa ia telah menjalani tujuan hidup yang salah. Ketika ditanya mengapa penyakit kanker adalah hadiah, jawabannya adalah : ""Penyakit adalah hadiah karena Allah telah memberi saya kesempatan untuk berubah." Titik balik yang manis, sebab ia menemukan arti sesungguhnya hidup: untuk beribadah.
"Jadi selama Anda hidup saudara-saudari, cobalah untuk memiliki tujuan, cobalah untuk memiliki rencana, cobalah untuk memiliki proyek yang akan Anda kerjakan. Bahkan jika Anda tidak melakukannya secara pribadi dan Anda mendanai proyek orang lain, lakukan saja sesuatu karena Anda akan membutuhkannya pada hari penghakiman."

Anda akan membutuhkannya pada hari penghakiman.
Seberapa jauh pemikiran kita mencapai titik itu? Apa yang bisa membuat kita berpikir jauh ke sana? Bagaimana mewujudkan renungan tentang hari penghakiman dalam amal sholih? Pertanyaan-pertanyaan demikian melintas-lintas dalam benak. Ali BAnat mengalami perjalanan hidup yang membuatnya sampai pada amal sholih. Apa perjalanan hidup kita yang mengantarkan kita pada keteguhan yang sama?

"Mohon dimaafkan segala kesalahan almarhum."
Kalimat sejenis itu hampir selalu didengar dalam prosesi pelepasan jenazah.
Siapapun yang meninggal. Mantan bupati, mantan kepala sekolah, mantan pejabat dinas, orang kaya raya, rakyat biasa, laki atau perempuan yang sudah balligh.
Belum pernah saya temukan orang-orang kaya yang melewatkan permohonan maafnya dalam prosesi itu. Semua sama.

Permohonan maaf. Sebaliknya juga, memberi maaf.
Kita akan membutuhkannya sebagai pemudah jalan kematian. Mungkin wajah-wajah orang yang kita sakiti akan muncul dalam proses sakaratul maut, momen yang tidak kuasa kita menanggungnya. Momen yang tidak ada titik kembali.
Jika melihat penguasa (dalam level apa pun) melakukan kedholiman, merusak kehormatan di depan orang banyak, menyebarluaskan keburukan prasangka secara terbuka dalam forum tanpa proses nasihat yang adil, saya merasa miris. Apalagi jika disampaikannya dengan nada petantang petenteng, sok kuasa (padahal kekuasaannya cuma seuplik), saya semakin kasihan. Kasihan sebab ia tertipu oleh kekuasaan yang semu. Kasihan jika ia tak sempat minta maaf sampai kematiannya datang. Bagaimana jika wajah orang yang, misalnya, dipermalukannya secara seampangan dalam forum itu muncul ketika ia sakaratul maut? Bagaimana caranya ia menebus kesalahannya? Bagaimana jika suami atau isterinya tidak paham bahwa ia membutuhkan permohonan maaf pada orang yang dulu didholiminya? Na'udzubillahi min dzalik.

Setinggi apa pun jabatan, kita butuh pemberian maaf.
Tak peduli sekaya apa, kita tetap menanti pemberian maaf.
Sebab kekayaan tidak akan mampu menebusnya. Uang sebanyak apa pun tidak akan mampu membelinya.
Bersegera meminta maaf setelah kesalahan dilakukan, agar tak menyesal kelak, ketika tak ada jalan kembali. Mudahlah meminta maaf dan memberi maaf, agar kelapangan jalan kematian kelak sudah disiapkan lebih dini.

Note:
Turut berduka cita ats wafatnya Ibu Hj Dian Djuriah. Semoga Allah SWT melimpahi almarhumah dengan ampunan, kasih sayang dan rahmat.

Ibu Guru Umi; menulis agar bahagia.
Rumah ABaTa, 30 Maret 2019, pukul 19.48 WIB.

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.