PROF MARIA SHALIH: DECISION MAKING (1)

Senin, Maret 11, 2019
“Without facilitating or exposing what you have learned, it is wasting of time and wasting of knowledge,” Professor Maria Shalih menegaskan pentingnya kami berbagi ilmu yang didapat selama diklat.
Saya menyimak semua penjelasan Professor Maria dengan antusiasme yang tinggi. Meluap semangat saya, terpapar oleh energi yang dipancarkan. Perempuan tinggi kurus itu punya aura yang berkharisma. Kalimat pembuka tulisan saya diatas itu, mendorong saya berbisik pada Bu Devi yang duduk di sebelah kanan.
“Itu sebabnya perlu ditulis, ya. “
Bu Devi mengangguk. Satu dua teman peserta diklat menyatakan ingin membuat blog. Saya motivasi agar diwujudkan segera. Sayang-sayang jika hasil belajar mereka ditularkan secara lisan saja. Ucapan akan mudah dilupakan. Sementara hasil tulisan bisa dibaca berkali-kali. Refleksi bisa dilakukan secara fleksibel. Sehingga memberikan ruang pada pembaca untuk mendalami makna kalimat per kalimat secara optimal.

Thinking Based Learning, Workshop, bunyi slide pertama.
Ada pertanyaan lanjutan di slide berikutnya: mengapa perlu berpikir?
“Padahal setiap hari kita berpikir, bukan?” Tegas Prof Maria.
Profesor Maria menyajikan data dari PISA Study.

Ini profil sederhana PISA:
PISA is the OECD's Programme for International Student Assessment. Every three years it tests 15-year-old students from all over the world in reading, mathematics and science. The tests are designed to gauge how well the students master key subjects in order to be prepared for real-life situations in the adult world. Why choose 15-year-olds? Because in most countries, at the age of 15, students can decide whether or not they want to continue their education. They therefore need to be equipped for adult life. PISA publishes the results of the test a year after the students are tested to help governments shape their education policy. PISA cycles are referred to by the year in which the students were tested. Therefore PISA 2000 means the students were tested in the year 2000, PISA 2003, in the year 2003 and so forth.
( http://www.oecd.org/pisa/)


Intinya, PISA itu mengadakan test setiap tiga tahun di negara seluruh dunia. Sasarannya adalah pelajar usia 15 tahun. Usia demikian dipilih sebab di banyak negara, pada usia tersebut, para pelajar sudah bisa memutuskan apakah akan melanjutkan pendidikan atau tidak. Tiga bidang yang diujikan: Matematika, Sains, dan Membaca. Hasil test ditunjukkan dengan meranking negara seluruh dunia di tiga bidang tersebut.
Profesor Maria menunjukkan kedudukan Malaysia. Beliau menyayangkan posisi Malaysia yang berada di 52 untuk Sains, 55 untuk Reading, dan 57 untuk Matematika. Kami mengamati Indonesia. Tanah air beta, yang gemah ripah loh jinawi.
“Kita istiqomah,” kata salah satu teman. Istiqomah di posisi 60an. Hiks. Malu.
“Something wrong somewhere,” Prof Maria mengomentari posisi Malaysia. Kalau Malaysia di posisi di atas kita dikatakan “something wrong somewhere’, jangan-jangan bagi kita ungkapan yang tepat adalah ‘something wrong everywhere’? Jangan salah duga, saya bukan sedang mempermalukan negeri sendiri. Jangan ragukan nasionalisme saya. Lahir batin saya cinta Indonesia. Tapi marilah lihat secara obyektif, posisi kita memang bikin miris.
Ada dijabarkan poin pengukuran tiap bagian. MAtematika, diukur dari kemampuan connection (mengoneksikan), reflection (melakukan refleksi) dan reproduction (mereproduksi). Sains mencakup keterampilan menjelaskan fenomena secara saintifik, mengidentifikasi masalah sains, dan menggunakan bukti saintifik. Terakhir, reading, berkaitan dengan pengukuran keterampilan mengakses dan mengambil informasi, mengintegrasikan dan menginterpretasikan, serta refleksi dan evaluasi.
Saya jadi ingat, bagaimana sulitnya membiasakan siswa mengoneksikan informasi atau pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan yang baru didapat. Atau bagaimana mengondisikan agar pengetahuan dipraktikkan secara sadar dan istiqomah. Contoh sederhana, siswa jurusan perhotelan. Mereka sangat terampil dalam hal membersihkan ruang. TAhapannya diketahui dan dikuasai saat berdaa di Edotel, lab praktik jurusan. Sayang seribu sayang, kelas mereka kotor dan jorok.
"Kalian tahu ilmunya, tapi tidak diterapkan dalam kehidupan sehari hari. Bagaimana ilmu itu bisa membawa kebaikan bagi hidupmu?" Pertanyaan saya lontarkan. Sehari dua, kelas agak bersih. Selanjutnya, kembali seperti semula.

"If the students can not understand, the mistake is on the teacher.” Baiklah, walah tidak sepenuhnya sepakat, titik pentingnya adalah: banyak yang harus guru benahi.
“Teach how to think, not what to think. “
Ajarkan bagaimana cara berpikir, bukan sekedar apa yang harus dipikirkan. Cara berpikir siswa kita, apakah sudah skillful? Sudah terampil? Apalagi jika dikaitkan dengan 5 kemahiran atau keterampian abad 21, yang lebih kompleks dan harus dikuasai. Lima keterampilan itu adalah: berpikir kritis, inovasi, problem solving, komunikasi, dan kolaborasi.
Kelimanya berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Tak akan bisa kolaborasi, tanpa kemampuan komunikasi yang memadai. Komunikasi dipengaruhi kemampuan mengidentifikasi masalah, menganalisis dan memecahkannya. Problem solving tak mungkin dilakukan tanpa keterampilan inovasi; dan, tentu saja, inovasi tak bisa ilakukan orang yang tidak mampu berpikir kritis. Itulah sebab, mengajarkan ‘how to think’ menjadi penentu kualitas empat keterampilan berikutnya. Tergambar sudah, bagaimana strategisnya ‘skillful thinking’ itu.

Sudah mengantuk, nih.
Masih berlanjut, insyaaAllah, ke bagian dua. Stay tune, I will be back! InsyaaAllah.

Ibu Guru Umi, menulis agar bahagia.
Berjaya Times Square, 41 4, 23.11 waktu Malaysia.

4 komentar:

  1. Barokallah, terima kasih atas tulisan Ibu Guru Umi yang luar biasa ini. Semoga menjadi amal salih Ibu. Saya menunggu tulisan ibu berikutnya

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.