OH, APUT!

Sabtu, Januari 16, 2016



Namanya Aput.
Dia tiba-tiba muncul suatu siang di ruangan kami, pada hari Senin. Saat itu kami sedang sibuk mengerjakan banyak hal. Dia  muncul membawa tas ransel besar, memakai baju batik. Badannya gempal, dan bicaranya lantang. Logatnya terdengar aneh.
“Betul ini SMKN I (baca: i)?” tanyanya. Kami yang semula tidak terlalu memperhatikan, menjadi tertarik mendengar aksennya.
“Betul, ini SMKN 1,” teman saya menjawab.
“Horree,  Aput lulus!” laki-laki itu bersorak dengan wajah sumringah.  Gerak-geriknya tampak lucu, seperti anak kecil.
“Aput bisa pulang dan bertemu Ibu!” dia kembali bersorak dan bertepuk-tepuk. Saya jadi ingat status yang dibagikan teman di salah satu media sosial. Teman saya itu bercerita tentang siswa SLB yang diuji dengan melakukan perjalanan.
                   Kami, eh saya,  bersemangat menyambutnya.  Saya menyilakannya duduk.
“Bapak siapa namanya?” tanya saya. Dia tertawa lucu.
“Aput bukan bapak, belum punya anak,” katanya.
Dari tasnya, ia mengeluarkan  sebuah map besar. Dalam map tersebut ada data dirinya. Namanya Aput. Usianya 34 tahun. Dia diberi tugas untuk datang ke SMKN 1  sendirian. Ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi: tidak boleh diantar, tidak boleh naik becak. Tidak boleh meminta-minta. Harus bersikap sopan sesuai ketentuan asrama.
“Aput kesini habis ayam empat!” katanya, dengan lagak lucu. Persis anak SD!
“Ayam Aput ada berapa?” kami bertanya.
“Tujuh belas… Dijual empat untuk pergi ke sini.”
“Kalau dijual empat, tinggal berapa?” pancing seorang teman. Aput menghitung dengan jari-jarinya.
“Tiga belaass!” Geli melihat tawa polosnya itu.
“Kalau ke Mekah, habis ayam berapa yaaa?”
Kami bengong.  Ada rasa terharu yang mendesak-desak.
                   Saya mengambil berkas di mapnya, menuju printer  dan menscan data diri dan ketentuan tugas yang dibawanya.
“Aput Allahu akbar. Di sekolah Aput yang Allahu Akbar belajar mengaji, yang Bapak Yesus belajar hari Minggu.”
                   Oh ya, paham. Allahu Akbar itu berarti muslim, jika Bapak Yesus itu nasrani.
“Aput bisa mengaji,”  katanya sambil tersenyum.
“Surat apa, Aput?” tanya saya. Tebakan saya, hafalannya pasti seputar surat-surat pendek.
“Surat apa saja! Boleh Aput baca surat Ar Rahman?”
What? Surat Ar Rahman? Surat favoritkuu!
“Boleh…boleh!!” Saya semangat empat lima. Diantara teman-teman, respon saya paling heboh. You know why? Karena dulu saya ingin Ar Rahman jadi mahar pernikahan saya; tapi tidak terwujud!
Aput bersiap.  Dia membenahi cara duduk, dan berkonsentrasi. Sebentar kemudian, bacaan basmalahnya terdengar. Lalu ayat satu, ayat dua… Seluruh penghuni ruangan tersihir. Kami diam. Bacaannya lembut. Ada beberapa panjang pendek yang kurang, tapi rasanya dimaklumi saja. Bukankah Aput siswa SLB?
Tak tahan, air mata saya mulai menetes. Saya menyembunyikan muka, menunduk. Bacaan Aput syahdu mendayu. Sempat beberapa kali saya melirik teman-teman. Bu Lela terpaku di kursinya. Berkali-kali mengusap matanya. Bu Fitri… Oh my God! Guru yang periang, cuek dan heboh itu berderai-derai air mata.
Sampai Aput mengucapkan “shadaqallahu hul ‘adziim”, kami semua seperti menahan nafas. Ya Allah… Siswa SLB ituuuu. Yang punya keterbatasan ituuuuuu… Hafalan suratnya benar-benar emezing! Awsem! Hiks, hiks, hiks…
“Aput  lulus? Nilai Aput bagus?” tanyanya.
“Baguuussss… Aput luluuussss!!” Kami beramai-ramai memberinya semangat. Aput bertepuk tangan sambil tertawa-tawa.
“Aput senang, bisa ketemu Ibu,” katanya. Saya mewek. Yang lain tampak menahan haru. Bu Fitri,  o ooww, masih berderai-derai air mata. Ia beringsut keluar, pergi entah kemana.
“Nilai Aput bagus?” Aput bertanya lagi.
“Baguusssss..,” kami serempak menjawab. Lucu, menjawab rame-rame dengan antusias, seperti sedang  menghadapi anak TK.
Lalu, seorang Ibu guru memulai. Ia menyelipkan uang ke saku baju Aput.
“Tidak boleh… Aput tidak boleh meminta. Aput tidak  mau,” Aput menyodorkan kembali uang itu.
“Aput tidak meminta, ini hadiah,” Ibu terebut memasukkan kembali.
“Ini hadiah ya? Hadiah? Aput tidak meminta, kan?” nada bicaranya seperti anak kecil yang ingin memastikan sesuatu.
“Yaaa, hadiah!” kami menjawab beramai-ramai lagi. Pesona Aput membuat kami tiba-tiba kompak mengekspresikan perasaan dalam kata-kata yang sama. Ah, Aput emejing!
Maka, bergantian kami memberikan hadiah. Mengumpulkan sejumlah uang dalam amplop dan menyodorkannya pada Aput.
“Buat beli ayam,” kata salah satu dari kami. Supaya ayam Aput banyak, dan bisa ke Mekkah. Untuk sangu ketemu Ibu.  Buat beli minum.
Aput kami sediakan minum. Berjalan kaki mencari sekolah ini, tentu lelah.
“Aput tidak mau minum, Aput tidak boleh meminta,” katanya menolak.
“Ini hadiah!” kami kompak lagi. Ah, Aput memang emejing! Kami bersemangat kompak melakukan satu dua hal tanpa tukar pikiran dulu. Seolah-olah ada telepati diantara kami.
Kami berbicang-bincang. Menanyai ini dan itu. Berfoto bersama bergantian. Aput tersenyum lebar smabil mengacungkan jempol.
Lalu, seseorang membisiki saya: “Pak X ingin ketemu, bawa ke ruang sana, ya?”
Aput saya antar ke sana. Beberapa guru sudah menunggu. Aput bercerita ini dan itu. Juga mengaji, surat dari juz 29. Khidmat sekali kami mendengarkan. Lalu, satu persatu memberikan hadiah.
Terakhir, Aput diminta memimpin berdoa. Saya terisak dengan doa indahnya.

Aput kemudian pulang. Dia menolak diantar. Langkahnya cepat-cepat dan riang.

Kami membahasnya seharian.
“Bu Fitri masuk sini sambil misek-misek... Saya tanya kenapa, gak dijawab. Masiiih aja nangis. Pas sudah bisa cerita, bilangnya gini : aku tertohok. Maluu..maluuuu,” Mbak Iva mempergakan dengan sungguh-sungguh bagaimana  gaya Bu Fitri.
“Dia hafal banyak surat, aku kalah,” itu penjelasan bu Fitri.
Seharian, Aput jadi trending topic. Ah, Aput memang emejing!
Di rumah, malam hari, tiba-tiba saya ingin sekali googling.  Saya mencari-cari dengan berbagai kata kunci.
Lalu, saya tertawa terbahak-bahak, sendirian. Ada gambar Aput dalam sebuah berita penipuan orang yang mengaku siswa SLB dan sedang ujian kelulusan.
Nama Aput berganti jadi Kusno. Orangnya sama, persisssss.

Esok hari, saya kabari teman-teman apa yang saya tahu. Kami merasa geli dan malu. Kami dibodohi oleh seorang Aput, dan semua tersihir dengan pesonanya.
Saya jadi ingat satu lintasan hati ketika menscan surat pengantar yang dibawanya. Terbesit keinginan untuk menelepon nomor yang ada di situ, dan terlintas satu kekhawatiran kecil akan penipuan. Saya mengabaikan bisikan kecil itu.

Ah, Aput memang emejing! Dia pintar sekali berakting. Sempurna! Perfecto! Awesome!

 "Aput dapat uang banyak dari menipu kita," kata saya.
"Eh, bukan menipu lhooo.. Kita sendiri yang bilang bahwa itu hadiah," kata seorang teman. Kami tertawa terbahak-bahak. Konyol rasanya, sepuluh orang tertipu dengan sukses!

Ngomong-ngomong, apa kabarnya  sekarang?
Dimanakah  kamu, Apuuut? Ayammu berapaaaa?
Wehehehe. 

*Oh ya, di foto itu, Aput yang berbatik ungu dan berbadan besaaaar... ;)
Foto itu saya dapat di http://www.jaringnews.com/suara-pembaca/umum/61853/Hati-Hati-Tertipu-oleh-Kusno-Siswa-SLB
Sebenarnya, ada foto bersama kami. Tapi lupa dimana disimpan. Eh, tapi kalaupun ada, gak akan di upload di sini. Malu ...hehehehe



6 komentar:

  1. Penipuan paling keren yg pernah sy baca :D. Pinter banget berarti menjiwai aktingnya ya Mak, sampai2 orang lain nganggep itu beneran. Sayangnya, kenapa dia nipu bawa ayat2 Allah :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu yang disayangkan... Terima kasih sudah mampir, Mba Vhoy..

      Hapus
  2. astaghfirullah beneran mbak, saya sudah terharu aja dari awal.

    BalasHapus
  3. Wuah tadi aku juga teremejing2 hehehe
    Tapi paasti ada hikmahnya ya ketemu penipu macam Aput

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi.. iyaa. Setidaknya, berkaca dari kemampuannya hafal beberapa surat yang agak panjang itu...
      Terima kasih sudah mampir, ya.

      Hapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.