SEKOLAH SEHARIAN?

Senin, Agustus 22, 2016
Menteri Pendidikan  yang baru bilang, para siswa difull-daykan saja, supaya karakternya terbentuk.

Hmm, gimana ya?

Dulu, saya mendirikan dua sekolah dasar full day dan satu lembaga prasekolah, full day juga. Menjadi kepala sekolahnya, menjadi wakil kepala bidang kurikulum, menjadi direkturnya, menjadi tukang masak plus cleaning-service. Haha. Rakus amat, yak? Gimana caranya? Nanti sajalah, kapan-kapan  ceritakan.
Sekarang, saya ingin bahas masalah isu  full-day school itu
Eh, sebelumnya, saya baca tulisan Mak Yuni yang isinya menggelitik. Baca tuntasnya disini ya:
http://emak2blogger.com/2016/08/10/ketika-jam-belajar-merenggut-kebebasan-bermain-siswa/

Intip juga disini :  yuniarinukti.com

Mak Yuni berikan pengalamannya tentang sekolah yang membosankan, bikin bete. Kebayang, apa nyamannya sekolah jika dijalani dengan terpaksa dan tertekan begitu. Capek, tentu.

Nah, saya mau bahas berdasar pengalaman saya juga.
Dulu, saya mengajar di SDIT. Sekarang saya PNS, guru di sebuah sekolah negeri.
Ada perbedaan signifikan antara dua lembaga tersebut.

Pertama, mari lihat dari sudut pandang kesiapan SDM.
Menjadi guru fullday itu, butuh energi besar. Menjadi pengasuh, guru bidang studi, guru ngaji, ibu/bapak, teman, bahkan satpam. Multifungsi, multikerjaan, multitanggungjawab.

Di sekolah full-day, guru memiliki dedikasi kerja yang maksimal. Maaf, bukan mau memuji berlebih. Kenyataannya memang begitu. Saya, saat menjadi guru full-day, harus siap menemani anak-anak hingga seharian. Belajar hingga pukul 14.30. Lalu menunggui mereka hingga dijemput. Ada orang tua yang menjemput terlambat, hingga pukul 16.00.
Mungkin ada yang bilang, tinggal saja. Mereka kan bisa bermain sendiri.

Okeh, okeh. Kenyataannya, kalau ada yang benjol, jatuh, keseleo, guru yang disalahkan. Kemana saja? Kenapa tidak mengawasi? Guru menjadi sasaran komplen lagi.

Bagaimana sekolah negeri?
Sekolah negeri, sebagian besar gurunya adalah PNS.  Sedikit dari sekian banyak guru PNS yang mau stay di sekolah hingga sore. Sebab kami (saya kan juga PNS sekarang!) terpaku pada jam kerja secara baku.

Kedua, kesiapan program. Apa yang mampu disediakan sekolah untuk menampung sekian banyak siswa hingga sore? Sekolah saya sekarang, ada 1800 siswa, dengan area sekolah yang luuuuaaaaassss. Sampai jam 13.30 saja, kadang tim disiplin menemukan siswa siswi yang pacaran di toilet sepulang sekolah. Hallo, kalau harus ngopeni segitu banyak anak sampai sore, then, diapakan mereka?

Ekskul? Okeh. Berapa ekskul dalam sehari supaya 1800 siswa gak bengong dengan gembira? Berapa pemerintah sanggup kucurkan dana untuk membayar honor para pelatih ekskul?

Baru dari dua sisi saja, kebayang kan ruwetnya mewajibkan semua siswa menjalani full-day.
Belum lagi dengan keberatan orang tua. Belum lagi urusan pertimbangan ekonomisnya. Makan siang mereka bagaimana? Sekolah sediakan? Berapa biayanya? Ortu sediakan? Bagaimana teknisnya, dibawa sejak pagi atau diantar ke sekolah? Urusan remeh temeh begitu, bukan perkara sederhana, sejatinya.

Uh, percaya deh.
Memutuskan membuat program full-day bagi semua sekolah bukan urusan mudah.

Lebih enak seperti sekarang. Sediakan sekolah fll-day bagi yang membutuhkan. Sediakan sekolah nonfull-day bagi yang sreg dengan sistem itu.

Masalah pembentukan karakter, masih ada solusi lain yang bisa jadi alternatif. Yang penting, solusi itu komprehensif, melibatkan keluarga, masyarakat, dan pemerintah.

Caranya? Ya, pemerintah yang kudu pikirkan. Saya ngapain? Ya,  kerjakan tugas saya sebaik-baiknya laaah.












13 komentar:

  1. Benar juga..guru2 pns biasanya mau plg on time hehehe

    BalasHapus
  2. kalau gak on time alias pulang telat, pertanyaannya adalah: ada uang lemburnya tidak? wehehehehe

    BalasHapus
  3. Ini keren, inii.. tulisan yang datang dari sudut pandang seorang guru. Membaca sepak terjang seorang guru, saya membayangkan bagaimana sulitnya mengatur ribuan anak. Mengawasi mereka di dalam dan di luar sekolah, mengajar materi pendidikan, membuat kurikulum tiap semester. Belum lagi melayani curhatan orangtua yang mendapati nilai anaknya tak sesuai harapan. Saya pribadi gak yakin jika full day school benar-benar berjalan, pendidikan karakter murid bisa terbentuk baik, karena pendidikan karakter dibentuk mulai dari komunitas terkecil, yaitu keluarga. Keberadaan guru hanya bersifat sebagai pendamping. Terima kasih tanggapannya, Mak, eh, Ibu Guru Umi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaak, benaaar.. Jepang gak fullday juga hasilnya oke. Mulainya kudu dari keluarga juga, ya Mak Yuni. Sefullday-fulldaynya sekolah, waktu di rumah tetap lebih banyak.

      Hapus
  4. Hihihi... bu guru ini nyantai banget sihhhh :D
    Btw setuju pada intinya, bagi yg butuh full day ya silakan, yg non full day ya monggo... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem Mbak, saya sebenarnya setuju aja dgn full day ini krna status sbg working Mom saya merasa full day school bs jd pilihan yg aman buat sekolah anak saya. Sedari umur belasan bulan ini juga dia udh dititip2 jadilah dgn full day school nanti saya akan merasa aman, anak saya InsyaAllah gak kemana-mana, dalam pengawasan guru2 yg super pastinya :)

      Hapus
    2. Iya, fullday cocok bagi emak-emak bekerja, dan mampu membayar biayanya. Sebab lumayan mahal, dan tidak ada subsidi dari pemerintah.

      Hapus
    3. Hihihi.. Ini guru SKD mak Diah, alias Sak Karepe Dhewe...wehehehe

      Hapus
  5. Mungkin full day cocoknya di perkotaan kali ya.
    Kalau difullday school-kan seluruh Indnesia masih susah. Apalagi yg di daerah, Pemerintah kudu bikin fasilitas dan menyediakan guru yg berkualitas yg setara di semua daerah klo mau sukses bareng hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betuul... Biayanya besar, dan semua bagian dari sekolah harus siap.

      Hapus
  6. iyeees! Ini pandangan dari seorang guru. Dan saya menulis dari sudut orang tua. Ternyata sama. FDS nanti dulu, lah. Biarkan jadi sebuah pilihan. Bukan kewajiban :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepakaaaaat... Pilihan, dan biarkan ortu yang menentukan, sekolah mana yang lebih tepat bagi mereka.

      Hapus
  7. sepakat bu Umi...silkan pilih dan pertimbangkan mau FDS atau mau non FDS...jangan paksa semua

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.