CAPLOK

Senin, September 25, 2017


Anak-anak UTS. Setelah maghrib, kami berkumpul di ruang perpus keluarga. Najma, Zahra, dan Hafidz masing-masing membawa buku. Meja pendek dikeluarkan. Selain itu, digelar kasur dan bantal. Yang ini untuk saya, emaknya. Wehehehe.
Biasanya bergantian Zahra dan Hafidz minta diberi quiz.

"Aku ingin tahu tentang otot," kata Zahra. Saya berdiri, menuju satu rak. Ada buku ensiklopedi tentang anatomi tubuh, ada juga buku lain berjudul dunia kedokteran. Zahra membuka buku itu lalu asyik sendiri. Kedua buku ensikopedi itu, kalau tidak salah, dibeli Ayah ketika ada tugas ke Jakarta. Lumayan, buku-bukunya masih bagus dan mengilat, harganya miring. Saya menerimanya dengan tubuh tegak, tentu saja. Tidak ikut-ikutan miring.

Hafidz menyebut satu topik (saya lupa apa topiknya, hiks), lalu saya bangkit lagi. Mengambil satu judul buku dan mengangsurkannya pada HAfidz. Dia tengkurap dan asyik dalam buku buku itu. Rasanya saya jadi petugas perpustakaan malam ini.
Ayah sibuk mengajari Najma matematika.

Adzan Isya terdengar. Ayah dan Hafidz bersiap ke masjid. Saya berbaring. Riyep-riyep. Angin bertiup dari pintu perpus yang terbuka. Tadi sore hujan, dan aroma tanah menguar. Saya suka aroma tanah basah. Adem, nyaman, dan membawa sensasi kenangan masa kecil. Bermain hujan, lari-lari menyeret sebelah sandal, mencari aliran air deras di halaman. Sandal dihanyutkan, dan kami akan terbirit-birit mengejar. Lalu pindah ke halaman berbatu. Kami mencari batu ceper yang cukup besar dan batu runcing kecil. Batu ceper itu ditumbuk hingga berlubang. Bergantian menumbuk, kami membuat irama tertentu. Jika sudah bosan, tidurlah terlentang. Membiarkan kaki-kaki hujan menusuk-nusuk tubuh kami. Sesekali mangap dan menelan air hujan.

Sekarang saya diserang bosan. Buku dan mushaf -yang belum tuntas dibaca- terbuka di sebelah sana, sementara saya di sebelah sini. Terlentang dengan nyaman, tapi gak pakai mangap.
Laluuuu...aku keturon. Eh, tertidur. Terbangun ketika ada suara pagar terbuka. Dan Hafdiz uluk salam. Oh ya, berarti lebih dari lima belas menit saya tertidur.

"Ayo sholat, Zah." Zahra mengangguk. Saya bangkit, berwudhu. Masih terasa mengantuk dan lelah.

Kami sholat berjamaah. Di dekat kami, Hafidz dan Ayah tengah membahas matematika. Saya takbiratul ikhram.

"Ini dikerjakan..," suara Ayah.
"Iya," itu Hafdiz. Saya tahu, topik matematika yang dibahas adalah konsep lebih besar dan lebih kecil. Tadi sempat lihat sekilas ketika menamani Hafidz membaca buku.

Saya membaca al fatihah, dan surat pendek. Suara saya kecilkan sedikit.

"Ini gimana ngerjakannya?" Suara Ayah.

"...." Sepertinya ada yang bingung.

"Gimana ngisinya?" Ayah bertanya lagi. Hafidz masih diam.

Saya ruku'. Telinga seperti ditegakkan. Ada yang meniup-niup lubang telinga sehingga menjadi perhatian pada dialog mereka berdua.

"Ini tanda apa?" tanya Ayah.

"Caplok." Suara Hafdiz mantap.

"Apa!?" Ekspresi terkejut babak satu.

"Caplok!" Suara HAfidz masih lantang.

"Caplok?" Ekspresi terkejut babak dua. Lalu hening.

Saya sujud. Menahan perut yang kaku. Mulut saya mencong-mencong, menahan garis lengkung senyum yang mendesak-desak. Tidak sopan betul itu senyum. membuyarkan kekhusyukan kami.

"Tanda apa ini?" Ayah bertanya lagi, ragu-ragu tampaknya.

"Caplok."

"Caplok?!?!" Kembali Ayah diserang shock dan galau sekaligus.

"Iya, caplok... Haw...haw...haaawwwww!!" Sepertinya Hafidz tengah memperagakan sesuatu.

Hening. Saya berdiri dari sujud, menahan kaku perut lagi. Sekuat tenaga melurus-luruskan bibir yang hendak melengkung lagi. Rakaat kedua, harusnya bacaan dijahrkan. Tapi itu bahaya. Jika dijahrkan, tawa saya akan lintang pukang menyembur. Batal, gawat ini, bisa batal.

"Kok caplok, sih? Selain caplok, apa nama yang dikasih tahu ustadzahmu?" Suara Ayah jadi aneh. Saya tahu, pasti Ayah tengah menahan geli juga.

"Caplok.. Haw, haw...," Hafidz keukeuh.

Saya berbalik. Zahra juga. Tak sanggup sudah. Hilang konsentrasi dan khusyuk, gara-gara caplok. Berdua kami tertawa tergelak-gelak. Ayah tengkurap, dengan badan berguncang-guncang. Wajah Ayah merah padam. Hafidz nyengir saja, dengan muka innocent.

"Iya, kan, caplok," katanya lagi. Kami semakin keras tertawa.

"Begini, haw...haw...haw...," Hafidz membuka jari-jarinya, memperagakan tangannya sedang melahap sesuatu. Kami semakin terpingkal-pingkal.

"Pindah sana!" Ayah menunjuk ruang sebelah, menyuruh kami shalat di sana. Manut aja. Kalau di sini, dan mendengar dialog Ayah dan HAfidz, bisa-bisa batal terus sholatnya.

Tahukah Anda, apa yang dimaksud dengan 'caplok' oleh Hafdiz? Lambang matematika ini : < dan >.
Dinamai caplok, jadi ingat dengan Pacman. Hehehe..



1 komentar:

  1. Maa Syaa Allah.. saya bacanya ikut terpingkal bu umi 😄😀

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.