KOMENTAR NABILA

Minggu, Juli 07, 2013
06 Agustus 2010 jam 9:04
Nabila, 10 tahun. Sedang senang-senangnya bermain. Dan kritis.

Kisah I:

Beberpa pekan lalu, kami rekreasi ke JAtim PArk II, Lamongan. Bersama para Bunda ABaTa. NAbila memilih berpisah dari kami, Ayah Bunda plus adik-adiknya.

Dia menjelajahi segala permainan. Sementara saya dan Ayahnya membuntuti Najma, Zahra dan HAfidh.

Di akhir rute, dia berenang bersama adik-adiknya. Menjelang sore, dia minta izin mencoba satu dua permainan yang belum sempat diikuti.

Nabila: aku naik perahu itu ya Bun.

Saya: Sudah menjelang jam empat, Mbak. Jam empat kita harus kembali ke bis.

Nabila: aku belum mainkan itu..

Saya : KApan-kapan kita kembali kesini, insya ALlah. Kalau kakak Hafidh sudah besar, bisa mainkan banyak permainan, insya Allah kita kembali. Supaya Mbak bisa ajak adik-adik..

Nabila: (sambil manyun) Nanti adik Hafidh besar, BUNDA PUNYA ANAK LAGI!

Para Bunda, yang ada di sekitar kami, tertawa terbahak-bahak. Saya nyengir kuda..hehehe..

Kisah II

Saya membutuhkan sepatu baru. Satu sepatu hitam, yang cuma satu-satunya, sudah terkelupas kulitnya (kulit asli apa jadi-jadian yaa?). Saya dan suami punya kebiasaan yang sama: cukup punya satu sepatu. Bila sang sepatu belum 'protes' dengan cara "mangap", 'nginceng" (alias jebol), belum merasa perlu membeli sepatu.

Maka suatu hari, saya membeli sepatu. Ada satu sepatu yang menarik perhatian saya. Modelnya feminin, manis, tapi sederhana. Tapi haknya agak lancip. Saya belum pernah pakai sepatu dengan hak lancip begitu. Tapi karea keburu naksir, resmilah sang sepatu menjadi milik.

Tapi, masya Allah, sepatu itu bikin betis saya sakit, dan ngilu. Saya tersiksa. Tak nyaman. Tak enak. Memang tampak feminin dan anggun. TApi apa gunanya kalau saya kudu menahan ngilu?

Mas Budi mentertawakan keluhan saya.

Mas Budi : Kenapa harus pakai hak? Takut kelihatan pendeknya? (huaaaa....)

Setelah menimbang, mengingat, memperhatikan, maka saya memutuskan untuk membeli sepatu lagi. Sepatu yang tanpa hak.

Nabila melihat sepatu baru itu.

Nabila: Bunda beli sepatu lagi?
SAya : Iya..
Nabila : yang kemarin kenapa?
Saya : kaki bunda sakit kalau pake itu..
Nabila : Hayyooo....BUNDA BOROS

Saya nyengir dan buru-buru ngaciirrr.....


1 komentar:

  1. The participant then both bets or indicators a partner to guess accordingly. The wheel itself has 38 numbered slots, each with the identical coloured background as the corresponding number on the table structure. The small, hard ball used to be manufactured from ivory; now it's usually plastic. The vendor spins the wheel in one direction, then spins the ball in the opposite direction|the 파라오카지노 different way|the wrong way} around a track on the bowl-shaped recess that holds the wheel. When the pace of the ball decreases, it falls off the track towards the wheel itself, and bounces around until it settles in a numbered slot.

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.