TANTE MACUL

Jumat, September 21, 2018
Namanya Rela Wahyu Sita.
Dia menyebut dirinya SIti Duile.
Kurus, lencir, cantic. Dulu punya tahi lalat besar, lalu dioperasi. Nah, saat pemulihan operasi itu, dia pakai masker. Lalu, entah ide siapa, beramai-ramain lainnya ikut pakai masker. Berfoto juga pakai masker. Solidaritas kocak dan tengil.
Tertular oleh Siti Duile? Bisa jadi. Guru muda satu ini lucu dan dijuluki ‘penyeimbang emosi’ para Bebs.
“Kenapa penyeimbang?” Tanya saya pada Ipeh, eh, Mbak Iva. Staff TU yang tinggi, langsing. Tingginya pake banget. Sudah gitu, suka pakai sepatu high-heels. Jadi semakin menjulang saja. Saya menolak foto berjajar dekatnya. Kalau jalan juga gak pede dekat-dekat dia. Berasa jadi liliput, kecil.
Dia juga syanteeeeek. Make upnya trendy. Beneran. Ish,ish, gak usah dicari yang mana namanya Ipeh. DIa sudah bersuami, beranak satu, yang nyempluknya minta ampun. Itu, yang bilang mau jadi dokter dan manten. Coba baca disini kisahnya.
Oh ya, saya lebih suka Mba Iva yang dulu, yang lebih polos. Lebih manis. Sementara Mba Iva suka dengan dirinya sekarang. Ya sudahlah, nothing to argue with taste, ya Ipeeeh? Muuaah.

Eh, saya kan sedang cerita Siti Duile, bukan Ipeh ya. Mari kembali ke jalan yang benar. Balik ke pertanyaan saya diatas.
“Karena dia, menyeimbangkan emosi kita, Bun! (Catat, gaya bilang ‘Bun’-nya mandes, medok, dan penuh tekanan!). Kalau kita sedang heppy, reaksi dia pasti jengkelin banget, bikin mangkel. Kalau kita lagi marah-marah, dia akan menghibur…,” berkata begitu, Mba Iva sambil melirik SIti eh Bu SIta dengan judesnya.
Sita? Dia memandang dengan wajah polos, lalu berjalan mendekati Mba Iva sambal bilang: “Cup..cup..cup.. Sedang bete ya? Sini, sini…”
Tangannya terjulur, hendak memeluk badan Mba Iva. Sebenarnya tidak sebanding, sebab SIti kurusnya kebangetan. Tapi Mba Iva sudah ilfil dengan gaya SIti, maka dia melindungi badannya dan memalingkan wajah dari SIti. Siti manyun-manyun gak jelas, lagak emak-emak yang menghibur anak batita. Saya tergelak-gelak. Unik nian!

“Kemarin, kita kan cari makanan, keluar berdua. Di jalan dia tanya, apa saya tidak mau berikan Sybil binatang piaraan. Kucing, misalnya.Saya sih mau, sebab saya kecil dulu juga punya kucing peliharaan. Saya kasih makan mie goreng, bakso, pokoknya apa yang ada dikasihkan. Tapi kalua skearang khawatir mau kasih Sybil binatang peliharaan. Takut dia gemas kelewatan, dipeluk kuat2, malah jadi mati. Kan kasihan…,” Mba Iva bercerita lagi. Siti hanya senyum-senyum gak jelas gitu. Wah, bahaya ini. Pertanda buruk.
“Terus bilang begini, kasih burung aja. Lho, burung itu kan ribet. PEmeliharaannya ekstra. Kudu dicarikan pasangannya kalua pas musim kawin. Ribet ah. Kalau kucing kan biarkan saja. Musim kawin dia cari sendiri, pulang-pulang sudah bunting. Eh, dia bilang gini..,” Mba Iva mulai menahan tawa. Siti masih mendengarkan, kali ini tanpa ekspresi. Wah, siaga satu nih!
“Kata Siti, kalau burungnya mau kawin, kawinkan saja. PAkai pesta, undang orang-orang, sewa terop.. ih, dia aneh!” Mba Iva mulai tertawa tergelak-gelak.
“Ya iya siiih. Burungku mau kawin, ya kawinkan sajaaa. Adakan pesta, kamu buwuh ya Pe,” kata Siti. Buwuh itu menghadiri pesta, wabil khusus maknanya adalah ngamplopi atau memberikan hadiah bagi mempelai.
“Tak buwuhi pisang, ya?” Mba Iva makin tertawa.
Sejujurnya, saya gak mudeng dengan dialog ini. Yang menjadi perhatian saya adalah, ajaib nian Siti, sampai keluar ide iseng mengadakan hajatan bagi burung peliharaannya…
**

Kali lain, dalam kesempatan santai, saya mendapati Siti sedang duduk di 'ruang kost'. Apa ruang kost? Baca sini, ya. Kepalanya menempel pada meja. Di tangannya ada hape. Itu gaya khasnya jika sedang sibuk dengan ponsel.

“Ini, dia nelpon lagi,” katanya.
“Jawaben, Beb. Ladeni saja!” Kalau tidak salah, itu Beb Fitri yang bilang.
Saya tidak mengerti apa maksudnya. Saya hanya mendengarkan, duduk di bagian tepi meja, menghadap Siti, sehingga leluasan memperhatikan tingkah lakunya.
“Apaan?” Saya akhirnya bertanya juga.
“Penipu, Nda,” jawab Siti.
“Dia telpon lagi!” Siti berteriak. Saya mengikuti kelanjutannya. Begini kurang lebih dialog Siti dan orang uang disebutnya penipu.

Siti : Hallo, Assalamua’alaikum ! Oom..
Oom : Halo, wa’alaikumussalam . Ini Oom No, gimana kabarmu?
Siti : Baik Oom. Oom gimana kabar?
Oom : Baik.. Ini, Oom sedang belanja, kehabisan pulsa.
Siti : Ya Oom, berapa pulsanya?
Oom : Berapa ya, dua puluh lima?
Siti : Kok sedikit Oom? Gak kurang?
Oom : Coba dulu kirim. Kalau beli pulsa di sini bla, bla. Kalau di sana berapa?
Siti : Lebih murah, Oom. Ini temanku juga ada yang jual pulsa.
Oom : Oh gitu, kalau gitu ke seitus aja ya belinya?
Siti : Iya Oom, pulsa berapa?
Oom : Berapa ya?
Siti : Lima puluh ribu ya Oom?
Oom : Oh , ya sudah.
Siti : Oom kirim nomornya dulu.
Oom : Ya, setelah ini Oom kirim nomornya.

Lalu terputus. Siti kembali sibuk dengan aktivitas awal, leyeh-leyeh dan bersantai. Cuek bebek dengan pengalamaya barusan. Suara tone sms dari hape Siti terdengar.
“Lhooo.. dia kirim nomor.. Hahaha,” Siti terkekeh-kekeh. Lalu ada panggilan masuk kembali.

Siti : Hallo, Oom. Iya Oom, nomornya yang barusan itu ya?
Oom : Iya, yang itu. Sudah pesan pulsanya?
Siti : Belum Oom, orangnya masih repot. Oom, cukup nomor itu?
Oom : Cukup itu saja.
Siti : Beneran, segitu saja Oom? Gak kurang?
Oom : Oom ada nomor lainnya. Tambahi, gitu kah?
Siti : Iya Oom, sekalian saja.
Oom : Y sudah, Oom kirim nomornya ya.
Siti : Ya Oom.
Klik. Siti terkekeh-kekeh lagi. Saya takjub lihat gayanya meladeni percakapan Oom gadungan. Siti nyantai, cool, tapi wajah tengil dan jailnya tampak kuat dan ..khas!

Masuklah nada sms.
“Kirim nomor?” tanya saya.
“Iya.”
Pecahlah tawa kami semua. Yang ada di ruangan ini ternyata sama-sama menonton Siti berakting, dengan lawan main Oom gadungan.

Lalu terdengar nada panggilan lagi. Siti mengangkat ponselnya dengan ketenangan-jahil yang elegan..duileee!
Oom : Aku barusan kirimkan dua nomor.
Siti : Oh, itu nomornya Oom tah?
Oom : Iya. Sudah dibelikan?
Siti : Sek, tunggu orangnya respon. Beli berapa Oom? Tak belikan serratus ya?
Oom : Iya, iya, boleh. Gak papa kah?
Siti : Gak papa Oom, temanku itu baik kok. Bisa dibayar nanti-nanti, gak papa.
Oom : Oh ya sudah.
Siti : Oom di Kalimantan gimana sekarang?
Oom : Oom ngurusi sawh.
Siti : Tante gimana kabarnya Oom?
Oom : Tantemu baik.
Siti : Tante masih macul, Oom? (macul= mencangkul)
Oom ; Apa? (suara terkejut)
Siti : Tante masih macul?

Kami tertawa tertahan, saya menutup mulut dengan tangan agar suara tawa tidak sampai terdengar.
Oom : Oh, masih (suara ragus-ragu dan bingung)
Siti : Tanam apa sekarang oom?
Oom : Ya tanam itu, tanam padi.
Siti : Lho kok tanam padi sih Oom
Oom : Kenapa? (suara menahan tawa)
Siti : Tanam ganja, Oom!
Oom : Apa? (ada suara latar orang tertawa tertahan di sana)
Siti : Tanam ganja, cepat kaya!!
Klik. Telpon diakhiri. Meledaklah tawa kami semua.
Oom di sawah, Tante macul. Can you imagine that? Wkwkwkwk.

Ibu guru Umi, menulis agar bahagia.
Abata, 21 September 2018. Selesai ditulis pukul 12.23 WIB.

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.