KARTU YANG HILANG

Selasa, November 04, 2014


(Cerpen ini, mendapat Juara I  Lomba Menulis Cerpen untuk Anak oleh Guru tahun 2008 yang diadakan oleh BOBO. Semoga bermanfaat!)


                Pak Amin masuk kelas dengan menenteng tas coklatnya. Senyum lebar tak lepas dari bibirnya. Pak Amin, guru yang sabar  dan selalu menemukan banyak cara  dalam mengajar. Di tangan Pak Amin, matematika jadi pelajaran yang asyik dan penuh tantangan.

                “Pagi, anak-anak!” Itu sapaan khasnya.
                “Pagi, Paaak!”
                "Silahkan kumpulkan kartu perasaan kalian!” 

                Suasana kelas gaduh. Masing-masing anak sibuk mengeluarkan kartu perasaan. Ini ciri khas kedua Pak Amin, kartu perasaan. Kartu ini terdiri dari dua bagian. Yang pertama adalah kertas manila ukuran seperempat folio warna biru. Kemudian kertas putih, yang disatukan dengan kertas manila menggunakan penjepit kertas. Pada manila biru diberi nama, kelas, dan nomor absen. Sedang kertas putih berisi cerita atau curahan hati pemiliknya. Mereka bebas menuliskan apa saja: kekecewaan atau kemarahan. Nanti Pak Amin akan member komentar atau pendapatnya di bawah tulisan anak-anak.
              
                 Pada pekan berikutnya, Pak Amin akan membagikan kertas putih baru untuk ditulisi kembali. Anak-anak sangat suka membaca komentar Pak amin karena isinya memberikan semangat dan membesarkan hati. Anak-anak juga tidak khawatir apabila isi ceritanya bersifat rahasia. Pak Amin dapat dipercaya.

                Sementara itu, Fina sibuk mengaduk-aduk isi tasnya. Ia tampak panic.
                “Cepat,  Fin. Ditunggu Pak Amin,”” Dewi, teman sebangkunya, mengingatkan.
                “Aduh, dimana, ya? Tadi malam sudah ku siapkan!” Fina mengeluarkan semua buku dan membalik-balikkannya di atas meja. Ya, ampun, dimana, sih? Sampai pelajaran matematikaberkahir, Fina tidak dapat mengumpulkan kartunya. Ia kecewa sekali.
               
               “Sudahlah, Fin, jangan sedih terus. Coba nanti kamu cari di rumah, siapa tahu tertinggal,” Dewi mencoba menghibur Fina. Mereka sedang beristirahat bersama Lintang dan Mira. Fina diam saja.
                “Isinya rahasia, ya?” Mira yang bertanya.

                Hm, tentu saja rahasia, desah Fina dalam hati. Seandainya mereka tahu isinya, pastu terkejut. Terutama Lintang.

                Pak Amin yang baik, Fina tidak suka  satu kelompok belajar bersama Lintang. Kalau boleh, Lintang ditukar dengan Mira , ya, Pak? Habis, Lintang sering membuat Fina jengkel. Masa bisanya tanyaaaa…melulu. Sekali-sekali bertanya sih, tidak apa-apa. Tapi kalau setiap materi harus menjelaskan berulang-ulang, kan, bikin jengkel! Waktu belajar kelompoknya jadi habis untuk menjelaskna ini itu. Kalau ada soal sulit, hanya Fina dan Dewi yang memecahkan. Lintang Cuma menunggu hasilnya saja.
                Bapak jangan bilang Lintang, ya! Nanti dia marah.
                Fina.

                Nah, begitu isinya! Karena itu Fina takut kartu itu terjatuh dan dibaca orang lain. Apalagi oleh Lintang! Aaahh…gawat!

                Esok harinya, Pak Amin membagikan kartu itu kembali. Semua, kecuali Fina, menunggu giliran dipanggil Pak Amin dengan jantung berdebar. Dew membaca kartunya sambil senyum-seyum. Anto berdiri di sudut belakang. LAgaknya seperti membaca sebuah misteri besar. Lintang kelihatan sangat serius. Matanya tampak basah! Wah, sepertinya Pak Amin banyak mendapatkan titipan  rahasia besar!

                “Fina!” Fina terkejut sekali mendengar namanya dipanggil. Ragu-ragu ia maju. Pak Amin menyodorkan kartunya sambil tersenyum. Cepat-cepat Fina kembali ke bangkunya.

                “Kok kamu dipanggil?” Dewi heran. Fina Cuma mengedikkan bahunya. Rasa penasaran  memenuhi hatinya. Dilihatnya kartu dengan teliti. Memang miliknya! Di sana, dibawah tulisannya, ada jawaban Pak Amin.
dengan Lintang suapay kamu dapat membantunya. Menurut Bapak, dengan banyak  mengajari dan membantu teman, kamu akan semakin menguasai matematika. Oya, belakangan ini nilai-nilai kamu sangat bagus. Pernahkah terpikir itu semua karena Lintang?
            
                Sepanjang pelajaran matematika hari tiu, pikiran Fina dipenuhi tulisan Pak Amin. Bahkan ketika istirahat tiba, Fina menyendiri di ruang perpustakaan.

                “Hai..,” Fina menoleh. Lintang berdiri di depannya. Matanya merah. Seperti baru menangis. Ada masalah apa, ya? Fina ingat isi kartunya. Tiba-tiba ia merasa menjadi teman yang jahat sekali.
                “Duduk sini, Lin.”
                Lintang menurut dan duduk di kursi depan Fina. Ada perasaan aneh menyelimuti keduanya. Tidak ada yang memulai pembicaraan sampai Lintang menyodorkan kartunya.

                Isinya begini:
                Pak  Amin, saya menemukan kartu Fina dalam tas saya. Mungkin jatuh dari buku catatan matematika Fina yang saya pinjam kemarin. Saya tidak berani mengembalikan. APlagi Fina ternyata tidak suka satu kelompok dengan saya. Apa yang harus saya lakukan, Pak?
                Lintang.

                Lalu ada jawaban Pak Amin:
                Tidak usah bersedih, Lintang. Lebih baik kamu sampaikan terus terang tentang kartu Fina. Tentang keberatan Fina, kita lihat nanti, ya?Siapa tahu ada perubahan baru.

                Fina tertunduk. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan bersalah menguasai hatinya.
                “Maaf, ya,” suara Lintang lirih sekali. “Aku yang berikan kartumu pada Pak Amin. Aku tidak berani bilang, takut kamu tidak percaya. Maaf juga, aku sering bikin kamu jengkel.”
                Fina maaaluuuu…sekali. Tadi ia mencoba merenungi tulisan Pak Amin. Nilai matematikanya memang bagus-bagus. Dari empat kali ulangan, dua diantaranya mendapat seratus. Sisany Sembilan puluh lima. Betul kata Pak Amin, Fina menguasai matematika. Dan itu karena ia sering mengajari Lintang.

                “Aku yang harus minta maaf, Lin. Aku jahat, ya?”
                “Enggak… Enggak, kok. Kamu baik sekali. Kamu juga begitu sabar waktu menerangkan bagian yang tidak aku pahami. Kalau lama-lama jengkel, wajar, ya? Aku juga jengkel kalau adikku tanya ini it uterus..” Lintang berkata sambil tertwa kecil.

                Fina ikut tertwa. Lega rasanya. Sekarang Fina tidak menyesal satu kelompok dengan lIntang. Tidak lagi menganggap Lintang sebagai gangguan. Justru Lintang adalah pahlawannya!

                “Rabu besok, jam empat sore, seperti bisa, OK  Kamu boleh tanya apa saja!” ajak Fina

                Lintang mengacungkan dua jempolnya sambil tersenyum. Siip…lah! Diam-diam Fina berbisik: terima kasih, Pak Amin. Bapak memang sangat bijaksana!

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.