JURUS BAKPAO MAUT

Selasa, September 06, 2016
www.bahanresep.com

Suka sekali dengan penganan satu ini. Apalagi yang isi kacang tanah. Di Jombang ada yang menjual sejak pagi.  Biasanya berkeliling, dan samai di kompleks rumah kami. Tapi tidak ada yang berisi kacang tanah. Sejenis itu, adanya menjelang sore, hingga malam hari.  Sayang seribu sayang, penjual bakpao isi kacang tanah favorit saya itu tidak berkeliling di kompleks kami. Biasanya dia anteng di depan toko alat music. Lumayan jauh dari rumah.

Bakpao ini, ada sejarah heroik buat saya.

Saat hamil Zahra, anak ketiga, Mas Budi sedang training di Madura. Kehamilan saya memasuki bulan kesembilan. Malam itu, tanggal 12 Oktober 2008, hujan gerimis. Nabila dan Najm merengek minta bakpao.
Setelah shalat isya, saya berangkat, naik sepeda motor. Menembus rintik, menuju toko musik. Bakpao isi cokelat habis, adanya isi ayam dan kacang hijau.

"Ada lagi disana, Bu, depan apotik Merdeka," kata sang penjual bakpao. Ah, dekat. Saya melajukan motor lagi, menembus hujan yang mulai menderas. Alhamdulillah, di sana ada bakpao isi cokelat. 

Kembali pulang, sekitar alun-alun, kira-kira lima menit menjelang sampai rumah, perut saya kontraksi. Oh, jangan disini, batin saya cemas. Saya melajukan lebih kencang lagi.
Sampai rumah, kontraksi berlanjut. Sekitar enam jam kemudian, saya melahirkan. 

Kalau dipikir-pikir sekarang, nekat sekali saat itu.


mamabakpao


Back to my story of bakpao versi kini, yuk!

Beberapa hari lalu, saya pergi berdua dengan Mas Budi. Naik motor, kududuk belakang Mas Budi sambil memeluk pinggangnya. Saya ingin beli bakpao, walau tujuan keluar bukan untuk itu.

"Yah, kita melewati yang jual bakpao nggak ya?" tanya saya, pura-pura. Saya tahu, tidak ada yang jual bakpao dijalan yang kami lewati. Bakpao cantik itu ada di jalan utama.

"Gak tahu, ya," kata Mas Budi. Kami tertawa. TST, tahu sama tahu, apa yang dimaksud masing-masing.

"Coba belok sana," kata saya. 

"Beloknya dikit, kok," rayu saya. Mas Budi tertawa lagi.

"Cuma tinggal kesitu, ke sini, sampe deh," saya masih usaha. Lagi-lagi, dia cuma ketawa. 

"Menyenangkan isteri, berpahala lho Yah," saya berbisik di telinganya. Dia tambah ngakak.

"Menyenangkan suami juga," balasnya. Kami ngakak berdua. Tahulah, maksud dia apa. Gak usah minta belok cari bakpao, biar gak susah dianya. Kalau gak pakai belok kan dia senang.

"Nah, belok situ Yah," saya menunjuk ke arah kiri.

"Kita cari bakpaonya di sepanjang jalan ini saja. Nanti kalau ada, kita beli," katanya santai.

"Ah, Ayah mah gak asyik," kata saya. Mulai manyun, haha. Saya hafal, di jalan yang kami lewati, belum pernah ada penjual bakpao mangkal. Jadi, itu modus.

Dia tertawa geli, sambil menggelitik dengkul saya. 

Kami pulang, tanpa bakpao. Sampai di rumah, Najma minta diantar membeli perlengkapan hasta karyanya. Ayah dan Najma keluar lagi.

Mereka kembali sekitar setengah jam kemudian. Membawa perlengkapan yang hasta karya dan....sekantung bakpao!

Hurray, rayuanku, mandes!

*ketika saya tanya beli dimana, Masku ganteng hanya senyum-senyum sambil bilang : "RAHASIA!"


#akudandia

Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.