PUASA JANJI

Rabu, November 22, 2017
Siang yang panas. Sepulang sekolah, Firman langsung masuk kamar. Baru saja hendak tidur, pintu kamarnya diketuk.
“Firman, mana penggaris Mbak?” terdengar suara Mbak Asih dari luar. Firman mengambil penggaris dari atas meja belajarnya dan cepat-cepat membuka pintu.
“Ini!” Firman menyodorkan penggarisnya sambil bersungut-sungut.
“Katanya cuma pinjam dua hari. Sudah dua minggu kok belum dikembalikan!” tegur Mbak Asih.
“Penggaris aja diributkan!” kata Firman sambil menutup pintu.
“Eh!” Mbak Asih menahan pintu kamar Firman dengan kakinya. “Bukan masalah penggarisnya! Ini masalah kebiasaanmu berjanji. Berjanji tapi lupa menepati!”

Mbak Asih pergi setelah sebelumnya menasehati ini itu. Tapi hati Firman masih dongkol sekali. Masa hanya masalah penggaris saja ribut. Kalau hilang bisa diganti. Firman bisa beli penggaris yang lebih bagus dan mahal daripada penggaris Mbak Asih.

Baru saja akan terlelap, pintu kamar Firman kembali diketuk seseorang.
“Firmaannnn!” Firman terlonjak. Suara Ibu! Cepat-cepat Firman membuka pintu.
“Aduh, Firman. Kamarmu berantakan dan kotor begitu! Kemarin kamu berjanji pada Ibu akan membereskan kamar. Sampai hari ini belum juga dilakukan!” Ibu mengomel.
“Iya deh. Sore ini Firman bereskan!” janji Firman.
“Sore ini ya, tidak boleh ditunda lagi!” kata Ibu tegas.

Firman menutup pintu kamar dengan hati dongkol. Kenapa sih semua orang harus meributkan janjinya? Orang berjanji lalu lupa kan sudah biasa. Bukan masalah besar. Lagi pula, itu cuma janji kecil yang tidak menimbulkan bahaya.

Baru saja akan terpejam, pintu kamar Firman diketuk lagi. Dengan perasaan sangat jengkel, Firman bangkit dang menarik gagang pintu dengan kasar. Ternyata yang mengetuk Paman Doni! Paman Doni adalah adik Ayah.
“Tidur, Fir?” tanya Paman Doni.
“Paman mau ambil kamera yang kamu pinjam dua minggu lalu,” kata Paman Doni.
“Oh ya, Firman ambil dulu, Paman,” Firman masuk kembali ke kamar.
“Tiga hari lalu Paman tunggu, katanya kamu mau kembalikan kamera itu,” kata Paman Doni.
“Eh..eh.., iya, maaf Paman. Firman lupa,” kata Firman dengan perasaan tidak enak.
“Boleh masuk?” tanya Paman Doni sambil melongokkan kepalanya. Firman mengiyakan. PamanDoni masuk dan duduk diatas tempat tidur. Tempat tidur Firman penuh dengan pakaian bekas pakai bercampur pakaian yang baru disetrika.
“Kamarmu rapi juga, ya?” sindir Paman Doni. Firman tersipu malu.



Firman mencari kamera itu di lemari bukunya. Tidak ada di sana. Firman berpindah mencari di lemari pakaiannya. Juga tak ada. Tas sekolahnya diaduk-aduk, kamera masih tak tampak.
“Paman tunggu di luar saja, ya?” kata Paman Doni.
“Iya, Paman. Maaf, kalau ketemu Firman langsung kembalikan,” Firman berkata dengan hati resah. Ia benar-benar lupa letak kamera tersebut.

Hingga malam hari, Firman masih belum bisa mengembalikan kamera Paman Doni. Ayah dan Ibu akhirnya mengetahui masalah itu.
“Kamu harus cari kamera itu sampai ketemu! Kalau hilang, hadiah ulang tahunmu tidak akan diberikan.Uangnya dipakai untukmengganti kamera Paman Doni,” kata Ayah tegas.

Firman menatap kamarnya. Benar-benar berantakan! Bola ada di atas meja belajar, tasnya terjatuh di bawah kolong tempat tidur. Baju-baju bersih bercampur dengan baju kotor. Kaos kaki berhamburan di sana-sini.
Ibu selalu mengingatkan Firman untuk membereskan kamar. Firman hanya berjanji: nanti, nanti, nanti Tapi selalu dilanggarnya!
Sekarang, hadiah ulang tahunnya terancam batal! Oh, tidak boleh terjadi! Maka Firman mulai bekerja: membereskan kamarnya.

Tas sekolah dibongkar. Segala kertas-kertas tak terpakai, pensil yang putus, kaos kaki (uh, baunya!) dibuang. Buku pelajaran dan buku tulis ditata rapi. Mainan yang berserakan dimasukkan ke dalam kotak besar. Tempat tidur diganti spreinya.
Firman bekerja keras. Dan, kameranya ketemu! Ada di dalam tas ransel pramukanya, tertimbun jas hujan, topi dan kaosnya.

Hati Firman lega sekali. Dengan ditemukannya kamera itu, berarti hadiah ulang tahunnya tidak jadi batal. Firman berjanji, ia akan puasa janji. Eh, bisa tidak ya? Harus BISA!


Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.