MENGAPA SULIT HIJRAH?

Kamis, April 12, 2018
“Tuliskan tentang mengapa sulit hijrah,” pinta seseorang.
Hm, baiklah. Menulis tentang ini, saya kudu mengingat pengalaman sendiri.

Mengapa sulit hijrah? Karena lupa mati, sederhananya sedmikian. Hijrah bisa mudah dilakukan manakala kesadaran akan mati itu merasuk.
Pada saat SK jilbab keluar tahun 1990, teman-teman saya bertanya, “Kapan pakai jilbab, Mi?” Mereka tahu kakak-kakak saya berjilbab semua. Lebar-lebar pula. Tahun itu, jumlah jilbaber tidak seberapa banyak dan masih dianggap aneh.
Jawaban cuek saya: “Nanti, belum dapat hidayah.” Ini jawaban kepedean, dan sak karepe dhewe. Suatu malam, tiba-tiba saya merenung lama. Tidak bisa tidur. Saya ingat kematian. Bagaimana jika saya mati dalam waktu dekat? Sudah siap apa? Dosa karena tidak berjilbab sebesar apa? Sudah siap menanggung akibatnya?

Lintasan pikiran itu menakutkan. Bayangan sakitnya kematian, pengapnya kubur, bikin saya ngeri. Besoknya, saya berjilbab rapi. Itu episode baru. Kakak-kakak saya menelepon dan emngucapkan selamat. Perasaan saya bilang : This is the new Umi.”
Ternyata perasaan itu berkali-kali muncul kemudian. Dalam proses menjalani hijrah, banyak hal yang perlu diperbaiki. The new Umi tetap menjadi kebutuhan agar tidak terus menerus terjebak dalam keburukan. Hidup itu seperti roller coaster. Kadang menukik naik keimanan, kadang terjun bebas. Never ending taubat, intinya begitu.

Ada teman yang saya kenal sejak sekitar 2010. Tidak berjilbab. Melihat perempuan tidak berjilbab dimasa sekarang ini bagi saya aneh. Berkebalikan dengan dahulu, yang menganggap jilbab asing. Sekrarang jumlah jilbaber banyak sekali, bahkan mayoritas berjilbab. Dengan gaya masing-masing.
Nah, teman saya itu, sudah berjilbab sekarang. Berjubah, berkaos kaki, jilbab lebar. Ajaibnya hidayah, masyaaAllah! Dia mulai aktif ikut mengaji. Mengaji yang mendorongnya secara intensif untuk mengubah gaya hidup.

Lalu, apa hambatan hijrah? Bukan sekedar persoalan memakai jilbab, namun keseluruhan kebiasaan. Hijrah dalam arti yang luas. Misalnya, berjilbab rapi, tidak tipis atau pendek. Makan minum tidak pakai tangan kiri. MEnghentikan kebiasaan mengumpat. Berhenti pacaran. Tidak bersalaman dengan bukan mahram. Menghindari mendengarkan music-musik yang tidak mengingatkan pada Allah. Berhenti berurusan dengan bank atau koperasi riba. Itu termasuk bagian-bagian hijrah yang perlu diperjuangkan.



Sulit berhijrah itu disebabkan oelh banyak hal, dan kadang sifatnya personal.
Pertama, lupa mati, atau kesadaran akan dahsyatnya kematian lemah.

Kedua, takut celaan. Mengubah kebiasaan itu butuh keberanian. Contoh sederhananya, memulai untuk tidak bersalaman dengan nonmahram. Bersalaman menjadi budaya kita. Bertemu seseorang, bersalaman. Halal bil halal, bersalaman. Tidak mudah memulainya.
“Aku sungkan,” begitu alasan yang kerap saya dengar. Sungkan karena biasanya bersalaman, kenapa sekarang menolak? Khawatir dicap sok alim. Cemas dengan berbagai dugaan reaksi sekeliling.
Syetan memang jago. Sangat tahu bagaimana menghembuskan ‘yuwas wisufii suduurin naas’. Meniupkan was-was dalam hati sehingga ragu-ragu dalam berubah.
“Katanya aku ikut-ikutan Bu Umi. Biarin deh, aku tidak peduli. Terserah mereka,’ kata seorang teman. Dia mulai berjilbab lebih lebar, tidak tipis dan tidak transparan. Kata ikut-ikutan terasa menusuk dan negatif. Apakah mereka memberi cap yang sama pada orang-orang yang meniru keburukan orang lain? Memang lebih mudah berkomentar pada perbaikan orang lain dari pada mengusahakan perbaikan diri sendiri.

Tiga, lingkungan yang buruk
.
Seorang siswa saya ingin hijrah, katanya. Dia mulai ikut kajian secara intensif. Namun kemudian terhenti. Menurutnya, saat hendak datang kajian, ada saja godaan-godaan yang muncul. Ajakan teman untuk main, ternyata lebih menarik. Kegiatan berjalan-jalan, lebih menyenangkan. Tentu saya tidak bermaksud menggebyah uyah bahwa semua kegiatan bermain, berjalan-jalan itu salah. Yang menjadi garisbawahi adalah jalan menuju perubahan itu selalu penuh rintangan. Sebagian rintangan datang dari limgkungan yang tidak kondusif.
Pengaruh lingkungan ini memainkan peranan penting. Teringat kisah seorang laki-laki pembunuh yang sudah membunuh 99 orang. Ia hendak hijrah dan bertaubat. Saran ulama adalah berpindah dari kampungnya, menuju kampung X. Sebab kampung asalnya adalah kampung yang buruk, dan tidak kondusif bagi proses hijrahnya.
Jika ingin hijrah, menjauhlah dari lingkungan dan teman yang buruk.

Keempat, lalai dengan angan-angan. Menunda hijrah dan berubah sebab yang diprioritaskan adalah angan-angannya. Seolah-olah hidup masih lama, masih punya banyak waktu untuk taubat. Besok-besok saja taubatnya. Menghindari tabarruj, nanti kalau sudah menjelang tua. Sekarang masih muda. Eman-eman dengan kecantikan yang dimiliki. Berdandan ini kan salah satu tanda kita bersyukur. Juga suami suka. Dan masih banyak alasan-alsan lainnya.

Kelima, tidak tahan menanggung resiko
.
Tidak bisa berjilbab yang syar’I, sebab tidak tahan gerah. Tidak bisa tinggalkan berhutang ke lembaga ribawi, sebab masih butuh. Tidak bisa ikut pengajian, tidak ada waktu. Tidak bisa mengaji atau tilawah, tidak sempat. Tidak bisa menghentikan makan pakai tangan kiri, sebab terlanjur terbiasa dan sering lupa. Resiko-resiko yang muncul akibat perubahan itu tidak bisa dimenej. Menyerah saja. Nanti, kalau sudah kuat, baru berubah.
Padahal kekuatan itu perlu dilatih. Dan memulai berlatihnya, tidak bisa tidak kecuali menjalankannya! Tidak ada kekuatan yang muncul dari dibayangkan saja. Mau kuat jogging lima belas menit, ya kudu dimulai berjogging. Bukan duduk melamun sembari membayangkan berjogging. Atau menunggu kejaiban datang begitu saja, tanpa berbuat apa-apa.

Keenam, lupa berdoa. Lupa memohon kekuatan pada Allah Yang MAha Perkasa. Kekuatan itu bersumber dariNya saja. Keraguan bisa ditepis dengan menyandarkan dayaupaya pada Allah saja, bukan pada kemampuan diri.

Jadi, mari berhijrah.
Kesulitan dalam berhijrah akan menguatkan dan mengokohkan. Jangan terjebak dengan prasangka kekhawatiran yang (seringkali) berlebihan. Syetan memang sengaja melakukan itu supaya dia tidak kehilangan teman di neraka kelak.

3 komentar:

  1. Hijrah memang sulit ya bund,, kalau ndak dipaksa kayaknya ndak bakal hijrah..
    Dan menghindari untuk tidak bersalaman dengan yang bukan mahram itu masih sussah.... semoga diberi kemudahan oleh Allah SWT.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sulit sebab harganya mahal...Syurga. Semangaaaat...

      Hapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.