BUKIT TERTAWA

Rabu, November 22, 2017



Puci dan Coci adalah dua ekor kelinci yang bersahabat erat. Pagi ini mereka berjanji akan bermain di tanah lapang bersama.
“Lewat sini, yuk!” Coci menunjuk tepi sungai. Ia memang paling suka melompat-lompat di sepanjang tepi sungai itu. Banyak anak-anak hewan-hewan yang bermain di sana.
“Kau belum pernah lewat bukit itu, kan?” kata Puci. Coci memandang bukit kecil yang dimaksud.
“Aku menamainya Bukit Tertawa,” kata Puci. Bukit Tertawa? Hahaha, mendengar namanya saja sudah membuatnya tertawa! Pasti banyak hal lucu disana! Coci melompat dengan semangat. Tiba-tiba Coci berhenti. Ia berbalik dan memandang Puci dengan curiga.
“Kamu pasti hendak mengusili aku!” katanya.
“Jangan berburuk sangka. Aku tidak sepertimu!” jawab Puci.

Tentu saja tidak. Puci dan Coci sangat berbeda. Puci adalah kelinci yang ramah, hangat dan suka menolong hewan lain. Dia tidak suka melihat temannya dalam kesulitan. Coci juga kelinci yang menyennagkan, hanya saja dia suka sekali mengusili teman-temannya.
Tiba dipuncak bukit, Coci takjub sekali. Bukit itu memang indah. Bunga warna-warni ada di mana-mana. Rumputnya hijau, tebal dan empuk. Pohonnya rindang sekali. Tapi ada yang aneh! Ada suara bisik-bisik kecil yang didengarnya sayup-sayup.

“Siapa yang berbicara?” tanya Coci heran.
“Mereka!” Puci menunjuk ke arah bunga, pohon dan rumput itu.
“Kenalkan dirimu,” kata Puci lagi. Cocimembusungkan dadanya.Ia sangat senang jika diminta mengenalkan dirinya. Tubuhnya yang gemuk lucu, bulunya yang lembut mengkilat sangat dibanggakannya.
“Haaii, aku Coci! Kelinci riang yang cantik,” Coci melantangkan suaranya . Pohon,bunga dan rumput tampak mengangguk-angguk.
“Bulumu bagus nian. Kau pasti rajin membersihkan diri,” puji bunga mawar. Coci senang mendengar pujian itu.
“Namamu terkenal, lho!” sekarang pohon jambu yang berbicara. Coci semakin melambung dikatakan terkenal. Tentu banyak hewan yang menceritakan kehebatan dirinya!
“Aih, pohon mangga itu rindang sekali! Pasti nyaman sekali tidur dibawahnya,” kata Coci sambil melompat ke arah pohon yang dimaksud.

“Aduh!” Coci menjerit. Ia terjatuh. Sesuatu telah menjerat kakinya.
“Apa tadi?” Coci melihat ke tanah dengan heran. Ternyata rumput-rumput itu yang membuatnya terjatuh! Mereka saling bertaut dan mengait kaki Coci.
“Auww!” Coci menjerit lagi. Kali ini pohon mawar mencolek punggungnya. Batangnya yang berduri menusuk perih!
“Aduh!” kembali sesuatu menyentuh kepalanya. Euphorbia membungkuk dan mengetuk kepalanya. Tidak terlalu keras sih, tapi cukup sakit juga!

Coci meringis. Ia sibuk mengusap-usap kepala, punggung dan lututnya yang masih terasa perih. Hei, ada suara tertawa!
Rumput terkikik. Pohon mawar dan euphorbia tertawa hingga terbungkuk-bungkuk. Pohon mangga, jambu, dan pohon-pohon lain juga begitu. Mereka semua mentertawakannya!
“Kalian usil!” sungut Coci.
“Ah, Coci, kami Cuma bercanda kok!” kata pohon kelengkeng. Coci berjalan tertatih menuju pohon mangga sambil cemberut.

Coci menyandarkan badannya ke pohon mangga yang teduh itu. Angin semilir berhembus. Terdengar sayup-sayup suara nyanyian merdu. Angin dan nyanyian itu membuat Coci tertidur.
“Coci, bangun! Sudah siang!” Puci mengguncang-guncang tubuh Coci. Coci terkejut.Ia cepat-cepat bangun. Matahari meninggi. Coci telah berjanji pada Ibu akan pulang menjelang makan siang.
“Aku pulang dulu!” Coci melompat. Tapi…oh,oh. Coci jatuh terduduk. Ekornya ternyata terikat ke pohon. Rasanya perih dan sakit sekali.
“Siapa yang lakukan ini?” Coci berteriak dengan marah. Ia mendengar suara tawa pohon mangga, pohon jambu, rerumputan dan bunga-bungaan.
“Aku!” pohon mangga mengacung.
“Aku juga!” rumput juga mengacung. Kembali pohon dan rumput itu tertawa. Coci sebal mendengarnya. Rasa sakit di ekornya masih terasa. Tapi hatinya jauh lebih sakit. Coci merasa dipermainkan.
“Kalian keterlaluan!” Coci berteriak marah. Ia berjalan cepat-cepat.Samar-samar masih didengarnya tawa penghuni bukit tertawa.

Puci menjajari langkahnya.
“Jangan marah, Coci. Mereka hanya bercanda,” hibur Puci.
“Canda mereka keterlaluan!” sungut Coci.
“Mereka hanya mengulangi apa yang pernah kau lakukan pada teman-teman,” sindir Puci. Coci semakin marah.
“Kau mengadukan semua yang aku lakukan pada mereka?” tuduh Coci.
“Tidak, tapi teman-teman yang kau usili seringkali saling bercerita ketika bermain di Bukit Tertawa. Karena itu kau terkenal di sana,” cerita Puci.

Coci terdiam. Puci benar. Apa yang dialaminya tadi pernah dilakukannya pada teman-teman. Walaupun mereka protes, marah atau menangis akibat ulahnya, Coci belum pernah minta maaf. Coci kan hanya bermaksud bercanda, bukan menyakiti. Selalu itu yang menjadi alasan.
Sepanjang perjalanan pulang Coci tak lagi banyak bicara. Puci berharap, Coci akan berubah. Semoga Coci tak lagi mengusili teman-temannya!



Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.