KEJUTAN PAGI

Rabu, November 01, 2017


“Ke sini, Nak. Bantu Bu Zum,” Bu Zum, rekan di perpus, memanggil satu anak prakerin. Prakerin adalah praktek kerja internal. Siswa kelas X memiliki jatah waktu sepekan untuk melakukan praktik kerja di unit-unit kerja di sekolah saya. Ada yang ditempatkan di perpus, di ruang kesiswaan, di lobby sebagai resepsionis, di ruang UKS, dll. Mereka hadir di unit yang ditunjuk mulai jam kedua (sekitar setengah delapan pagi) hingga menjelang pukul dua. Untuk perpus, satu ruang ada dua siswa. Dan hari ini, keduanya perempuan.

Satu siswi membuntuti Bu Zum dan mulai memilah berkas. Satu anak lainnya di dekat rak. Tiba-tiba masuk siswi prakerin yang bertugas di lobby.
Fulanah siswi Multimedia yang prakerin di perpus dipanggil, orang tuanya meninggal,” katanya, dengan lantang dan lugas.
Kami, - saya, Bu Zum, Bu Bi’ah, dan Pak Kamto-, yang ada di ruangan bengong. Pengumuman tadi seperti pengumuman barang hilang, atau pemanggilan kereta tiba di stasiun. Meluncur cepat, tanpa jeda.

“Siapa yang namanya Fulanah?” Pak Kamto bertanya.
“Saya, Pak,” dia sudah bangkit, berdiri dengan muka pucat. Sebentar badannya tampak limbung. Pak Kamto menahan badannya.
“Duduk dulu,” saya mengajaknya duduk. Mengambilkan air, dan menyodorkan padanya. Dia minum dengan tangan gemetar.
“Orang tuamu sakit?” tanya Pak Kamto.
“Tidak, Pak,” dia menahan tangis.
“Tunggu sini dulu, kami cek,” Bu Zum berkata, lalu bangkit. Saya menemaninya bersama Pak Kamto.

Semenit, dua menit, Bu Zum belum datang. Saya bangkit, hendak menuju ruang lobby. Tiba-tiba Bu Zum muncul.
“Yang meninggal ibu kandungnya di Surabaya, dia diasuh sama ibu angkatnya. Sekarang Ibu angkatnya di ruang BP. Saya diberi tahu kakaknya yang menunggu di lobby ,” bisik Bu Zum di pintu. Saya terdiam. Something wrong, feeling saya kasih sinyal.
“Kamu tinggal sama siapa, Mbak?” pancing saya, masih berdiri dekat pintu.
“Orang tua, Bu,” jawabnya.
“Ibu kandung?” saya bertanya lagi. Mulai meraba sesuatu yang ganjil.
“Iya,” katanya.
“Sepertinya dia tidak tahu kalau dia punya ibu kandung,” saya berbisik pada Bu Zum.
“Saya tahan saja dia disini, jangan ketemu kakaknya di lobby. Bu Umi cari kejelasan di BP,” kata Bu Zum.
Bu Zum mendekati dan duduk di dekatnya.
“Kita tunggu kabar pastinya, ya. Kamu disini saja, supaya tenang,” bujuk Bu Zum.

Saya menuju ruang BP. Seorang ibu tengah duduk di depan salah satu ruang BP sambil menangis, berderai-derai air mata.
“Ibu, yang meninggal ibu kandungnya?” saya menanyai.
“Injih, ibunya di Surabaya,” katanya sambil mengusap air mata.
“Fulanah sudah tahu bahwa dia punya ibu kandung?” saya bertanya lagi, dengan nada pelan.
Dereng... Kulo bingung,” dia semakin terisak-isak.
“Ibu kandungnya masih famili?”
Taseh sederek kulo. Kulo bingung, larene dereng sumerap,” dia semakin menangis.

Tiba-tiba masuk Pak Kamto.
“Bu Umi, anaknya ke lobby.”

Wah, diluar skenario ini! Maksud saya menahan Fulanah bertemu kakaknya adalah menunggu kepastian semuanya. Sementara saya menanyai ibunya dan membantu mengkondisikan semuanya. Jika memang benar Fulanah belum tahu bahwa ibu yang selama ini dianggap sebagai ibu kandung itu bukan ibu kandungnya, dia harus diberitahu pelan-pelan. Fakta ini pasti memukul jiwa, mengguncangkan. Ditambah dengan berita kematian, maka pukulannya dua kali.
Saya berlari dari ruang BP, menuju lobby. Ketika melewati lobby, tak ada kakaknya. Saya berlari lagi ke arah perpus. Mereka berdua, Fulanah dan kakaknya, tengah berjalan sambil bertangisan.

Di perpus, mereka berdua ndeprok dan berpelukan dalam tangis. Saya hanya bisa mengelus-elus tangannya, berusaha menenangkan. Tak lama datang ibu angkatnya, dan memeluk dari belakang.
“Ayo, Nak, pulang. Ini Ibu, lihat, ini Ibu disini,” Ibunya memeluk sambil menangis. Fulanah memejamkan mata, terisak-isak.
“Itu Ibu, buka mata, itu Ibu,” kakaknya membujuk. Fulanah masih memejam dengan air mata berdera-derai. Ibunya menciumi wajah, memeluknya erat-erat. Mereka bertiga bertangisan.

Saya tercekat, tak mampu berkata apa-apa. Begini skenario yang Allah takdirkan. Mengetahui kebenaran disaat yang pilu. Menerima kenyataan adanya ibu lain, sekaliigus harus merelakannya pergi. Sebelum sempat merasakan apa-apa.

Saya teringat kisah sahabat dahulu. Dia baru tahu bahwa ibunya bukan ibu kandung di usia dua puluhan, ketika sudah bekerja. Ibu kandungnya adalah sosok yang selama ini dipanggilnya ‘Bude’. Dia minggat, butuh waktu menenangkan diri lebih dari sepekan untuk bisa menerima kenyataan itu.
“Pukulan berat bagi saya, Mbak,” katanya.

Maka, melihat anak beranak menangis pilu ditengah situasi seperti ini, saya tak mampu berkata apa-apa. Mereka diantar pulang oleh mobil sekolah. Berjalan berpelukan menuju lobby, dibawah tatapan banyak siswa.

Kejutan pagi.
Allah telah tentukan takdirNya bagi Fulanah dan keluarganya. Semoga diberi ketabahan dan kemampuan melewati semua ini dengan iman terbaik. Allahumma aamiin.


1 komentar:

  1. Kisahnya pilu. Kebenaran harus terungkap di saat yang mungkin dianggap tidak tepat. Tapi begitulah skenario Allah yang tertulis. Semoga si Fulanah diberi ketegaran hati.

    BalasHapus

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.