MENDUNG , HUJAN, DAN KEMATIAN

Senin, Oktober 16, 2017
CARA MENJEMPUT KEMATIAN

Dua malam lalu, saya menonton film tentang pembunuh bayaran. Ada dialog yang terjadi antara pembunuh bayaran itu dan seorang perempuan.
"Apakah kau takut mati?" Tanya perempuan itu.
"AKu tidak takut mati," jawab pembunuh bayaran.
"Kau bisa terbunuh."
"Cara seseorang menjemput kematian bergantung pada caranya menjalani kehidupan," tandas si pembunuh. Dia tahu resiko pekerjaannya. Hidupnya dihabiskan untuk membunuh, maka bisa saja ia akan menghadpi kematian lewat pembunuhan pula.

MENDUNG PERTANDA HUJAN



Tadi siang, saya pulang sebentar. Mengintip koleksi buku di perpustakaan rumah. Mencari-cari judul buku yang berhubungan dengan bahasa Inggris. Ini ceritanya, ada edaran dari dinas pendidikan berkenaan dengan gerakan literasi. Para guru diwajibkan membeli buku dari Tunjangan Profesional yang didapat.
Baru ngeh, dari seribu lebih judul buku di perpus kami, tidak terlalu banyak buku-buku yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Dibandingkan dengan buku-buku dakwah, ensiklopedi, novel, matematika nalaria, yang jumlahnya bisa puluhan.
Akhirnya, setor juga dua judul.

Mendung menggayut. Angin menyusup, dingin. Saya menengadah. Menakar waktu hujan akan turun.
Di jalan, seakan semuanya bergegas. Anak-anak sekolah yang sudah pulang, berkendara dengan rata-rata kecepatan tinggi. Suasana jalan menghela pengendara melaju. Keadaan ini juga ditemui manakala titik-titik hujan mulai runtuh, walau masih halus. Tiba-tiba banyak yang membunyikan klakson, tidak bisa bersabar menghadapi kendaraan yang merambat pelan. Mereka seakan hendak menyelamatkan diri dari gangguan hujan.

Mendung membuat semua bersegera.
Mendung menebar cemas dan khawatir. Mungkin ingat jemuran yang belum diangkat. Mungkin sebab dalam tas berisi laptop dan berkas berharga, yang tidak boleh terkena hujan. Mungkin sebab khawatir berhujan-hujan, takut jatuh sakit.

Mengingat bergegasnya mereka dan saya sebab mendung ini, tiba-tiba pikiran saya terlempar pada masalah kematian.

Seandainya semua kematian bertanda gamblang seperti mendung sebagai pertanda hujan, mungkin manusia akan bergegas.

Bayangkan seperti ini:
Angin kematian mulai berhembus, manusia bersiap. Amal sholih digeber. Setiap detik kesempatan hidup demikian berharga. Sholatnya khusyuk. Mudah infaq. Kata-kata terjaga. Hati dipelihara. Harta tidak menjadi tujuan, tapi menjadi wasilah untuk beramal. Tidak mudah terpancing bertengkar. Segala perbedaan pendapat akan dihadapi dengan lapang.

Mendung kematian semakin pekat.
Mungkin hanya mau sholat. Mendengungkan kalimat thoyyibah. Berdzikir tak lepas.
Uang biar saja. Mobil biar saja. Rumah tidak penting. Bahkan mungkin semuanya ingin diinfaqkan, disedekahkan agar jadi amal jariyah. Sunnah-sunnah ditegakkan. Tak ada lagi pernak pernik dunia yang membuat gelisah. Gossip artis lewat. Sedikitpun tak masuk daftar ingatan. Perselisihan, dimintakan ridho. Mungkin akan menghiba-hiba mohon maaf. Dan menghamburkan pemberian maaf bagi siapa pun.
Gelar yang dibanggakan, bubar jalan. Tak hendak dijadikan harapan, kecuali yakin bahwa ilmu-ilmunya sudah menyebarkan kebaikan dan menghantarkan perbaikan.

Titik air kematian yang tipis, halus, meluncur.
Tidak ada lagi yang dituju, kecuali menghadapkan hati dan wajah pada Allah Subhanahu waTa'ala. Detik-detik dihimpun untuk melangitkan permohonan ampun, maaf, atas segala salah dan khilaf. Pengharapan paling ujung adalah akhir yang baik, husnul khatimah.



Mendung sering menjadi pertanda akan turun hujan. Rentang waktu, antara mendung dan hujan, bisa digunakan mengkondisikan segala sesuatu hingga hujan benar-benar turun. Jemuran segera diambil. Keset diangkat dari teras dan disimpan di tempat aman. Sepeda motor ditepikan supaya tak kena tempias air.
Sementara kematian sering tak berisyarat sebagaimana hujan ditandai mendung. Maut menyergap tanpa alarm. Menempel lekat tanpa sekat. Siang tertawa, malam sudah menutup mata. Malam bercengkerama, shubuh tinggal nama. Pagi mengaji, menempel di sajadah saat dhuha, tak bangun lagi.


HUSNUL KHATIMAH

Misteri kematian sering membuat lalai. Seolah akan hidup panjang dan lama. Nanti, besok saja, kapan-kapan berubah.
Maka banyak orang tua yang terpana, sebab anaknya berpulang. Nenek kakek tergugu, karena cucu kecil mungilnya terbujur kaku.

Perhatikan saat hujan terjadi. Deras. Kabut menutupi udara. Angin kencang. Setelah itu, turunnya air mereda berangsur-angsur. Lalu cuaca akan cerah. Terang kembali. Siklus alam berputar lagi. Cerah, mendung, hujan, begitu seterusnya.
Sementara setelah kematian, tak akan berputar balik pada kehidupan dunia lagi. Ia menjadi penghantar pintu kehidupan lain, ghaib, dimana hasil perbuatan di dunia menjadi teman sepanjang waktu. Hingga kiamat.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah yang akan menjadi teman menanti? Daftar panjang amal, atau timbunan dosa?

Kalimat pembunuh bayaran diatas layak untuk direnungkan. Bagaimana manusia menjalani hidup, menentukan fase bagaimana ia cara dia mendapatkan kematian. Yang istiqomah beramal sholih, beribadah, insyaaallah akan punya peluang meninggal dalam husnul khotimah. Sebaliknya, orang-orang yang banyak melakukan maksiat, harus khawatir, jangan-jangan ia akan menghadapi kematian dalam keadaan bermaksiat demikian.

Berdoalah banyak-banyak, semoga Allah Subhanahu waTa'ala matikan kita saat melakukan amalan terbaik. Mengejar husnul khotimah dengan meninggikan istiqomah beramal sholih.




Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.