RUMAH CAHAYA

Jumat, Oktober 06, 2017



Ahad kemarin, tanggal 1 Oktober 2017, ada pengajian rutin IKADI. Ini pengajian bulanan yang diselenggarakan setiap Ahad pertama. Pembicaranya adalah para Kyai atau Asatidz, baik dari Jombang maupun dari luar kota. Tempatnya adalah di EIghteen, jalan KH Ahmad Dahlan. Dari alun-alun Jombang ke arah utara sedikit.

Pesertanya cukup banyak. Ada donatur khusus yang selalu menyediakan bubur lobe-lobe. Ini bubur kesukaan anak-anak (bapak ibunya juga doyan, hehehe). Peserta yang datang bisa langsung mengambil di meja belakang. Bebas, gratis. Alhamdulillah.

Tema bulan Oktober kalau tidak salah adalah hijrah. Pembicaranya adalah Kyai Haji AbdulWahab Cholil, dari pondok di Denanyar. Beliau salah satu Kyai favorit saya. Bisa menjadi pembicara bagi berbagai kalangan: remaja ok, emak-emak Ok, mahasiswa OK. Gaya ceramahnya kalem, santai, cair, tapi dalam.



Dibuka dengan pembahasan tentang watak dasar manusia, bahwa manusia suka berkeluh kesah.

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا
Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah. (Al-Ma'arij: 19)
Yang hal ini ditafsirkan oleh firman selanjutnya:
إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا
Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. (Al-Ma'arij: 20)
Yakni apabila tertimpa kesusahan, ia kaget dan berkeluh kesah serta hatinya seakan-akan copot karena ketakutan yang sangat, dan putus asa dari mendapat kebaikan sesudah musibah yang menimpanya.
وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا
dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. (Al-Ma'arij: 21)

Menurut Kyai AbdulWahab, jazu'a adalah terkejut, kaget, sebab kurang keyakinan. Orang yang kuat keyakinan tidak akan mudah terkejut; ia tenang, tentram dan kokoh dengan keyakinannya.

Manusia mudah berkeluh kesah ketika ditimpa dengan musibah. Musibah manusia kebanyakan disebabkan oleh 3K, yaitu :
1. Keteledoran.
Sunnatullah alam semesta adalah keteraturan, keseimbangan. Sesuatu yang tidak dilakukan pada tempatnya, akan menimbulkan kerusakan dan mengundang masalah bahkan bahaya.

2. Kemaksiatan atau kemungkaran yang dipelihara; kemungkaran yang dibiarkan ada tanpa usaha untuk memusnahkannya. Pembiaran atas kemaksiatan adalah pengundang bala' dan azab.
“Dan peliharalah diri kalian dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian, dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfaal [8]: 25)
Menurut Imam Ibn Katsir, ayat ini adalah peringatan dari Allah ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman tentang fitnah. Fitnah dapat berupa ujian, bencana, musibah atau azab yang menimpa tidak hanya kepada ahli maksiat dan pelaku dosa saja, namun juga menimpa orang yang tidak melakukan kemaksiatan. Sebab orang-orang yang tidak melakukan perbuatan dosa tadi tidak berupaya mencegah dan menghentikan kemaksiatan yang ada.
At-Thabari menyampaikan sebuah riwayat dari Ibn ‘Abbas tentang ayat ini, Ibn ‘Abbas berkata: “Allah memerintahkan orang-orang yang beriman untuk tidak mendiamkan kemungkaran yang tampak di hadapan mereka, jika demikian (tetap mendiamkan) maka Allah akan menimpakan azab yang berlaku umum.”

3. Kekufuran
Penyebab kekufuran ada 4, yaitu sombong, marah, dengki, dan syahwat. Sombong adalah pangkal penyangkalan, pembangkangan. Iblis menolak perintah bersujud sebab kesombongan. Benarlah yang dikatakan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah : “Apabila kesombongan telah dikalahkan, maka mudah bagi seseorang untuk mematuhi aturan."
Dengki, membuat orang enggan menerima nasihat dan kebenaran. Bani Israil adalah golongan yang paling suka memelihara dengki. Mereka menyembunyikan kebenaran dan enggan membukanya. Tidak layak seorang muslim membiarkan dirinya dalam kedengkian.
“Apabila kedengkian telah dihilangkan, maka mudah bagi seseorang untuk menerima nasihat dan melaksanakannya,” begitu menurut Ibn Qayyim Al-Jauziyah.
Sedangkan mengenai kemarahan, Ibnu Qayyim berkata : “Kemarahan, yang erat kaitannya dengan kebencian, sifat ini bisa dihilangkan dengan mengenal diri sendiri, dan menyadari bahwa kita tidak berhak marah dan dendam terhadap orang lain hanya karena memenuhi tuntutan nafsu semata. Sebab, sikap yang demikian itu menunjukkan lebih diutamakannya sikap ridha dan benci karena hawa nafsu, daripada ridha dan benci karena Allah.”
Terakhir, mengenai syahwat, inilah yang dinyatakan Ibnu Qayyim:
“Jika Anda membuka pintu syahwat, berarti Anda menghalangi diri Anda untuk memperoleh ilmu dan pengetahuan. Sebaliknya, jika Anda menutup pintu syahwat, berarti Anda membiarkan diri Anda secara penuh untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.”
Orang yang mampu mengendalikan syahwat akan dimudahkan dalam bersabar, memelihara diri dan beribadah.

Cara menghindari musibah, menurut Kyai, adalah berdoa, banyak-banyak beristighfar, dan menghilangkan penyebabnya. Berdoalah agar Allah Subhanahu waTa'ala menjauhkan kita dan keluarga dari musibah.
Mengenai istighfar, kita bisa bercermin pada kisah pertemuan Imam Ahmad dengan seorang pedagang roti di Syam. Keistiqomahan pedagang roti membaca istighfar mengundang kemudahan dan pemenuhan semua harapannya.

Selanjutnya, pak Kyai membahas karakter mukmin, yang serupa lebah. Pertama, lebah hinggap di tempat yang bersih dan mencari makanan yang bersih juga. Mukmin juga harus demikian. Pastikan tempat mencari nafkah bersih, dan harta yang didapat juga bersih. Kedua, lebah mengeluarkan sesuatu yang bermanfaat, yaitu madu. Yang dikeluarkan mukmin adalah yang baik-baik. Perkataannya baik, perbuatannya baik, pikirannya baik. Ketiga, lebah tidak pernah merusak apa yang dihinggapi. Memelihara alam semesta adalah fitrah mukmin. Dalam skala kecil, membuang sampah pada tempatnya, misalnya. Menularkan kebiasaan-kebiasaan baik di sekelilingnya, mencegah kemungkaran juga bagian dari usaha mukmin agar lingkungan sekitarnya tidak rusak.

Ada pembahasan yang cukup 'nonjok' bagi saya.
Pak Kyai mengajak kami hijrah secara sederhana. Misalnya, hijrah dari kebiasaan larut dalam medsos, terutama WA.
"Buat komitmen bahwa kita membaca WA hanya hal-hal penting saja."
Ya Allah, makjleb banget! Beliau mengkritisi kebiasaan asyik dengan WA. Sebentar-sebentar buka WA. Sebentar-sebentar chatting di WA. Aduh, itu mah saya bangeeeeet. Malu, hiks.
Beliau sempat menyatakan bahwa sebaiknya perempuan-perempuan yang sedang masa iddah, berlepas diri dari medsos agar masa iddahnya terjaga. CObabayangkan, seorang perempuan yang beriddah, tidak keluar rumah, tapi bebas bercanda dan 'berkumpul' dengan teman-teman di group WA, dimana di dlamnya juga banyak kaum adam. Itu mah mirip-mirip kongkow bareng, cuma bedanya di di dunia maya.


Hijrah lain yang Pak Kyai tawarkan adalah membuat kesepakatan-kesepakatan positif dengan keluarga. Misalnya, bersepakat untuk rajin puasa Senin Kamis, puasa yaumul bidh, dan khatam al Quran dalam sebulan. Jangan biarkan rumah sepi tanpa bacaan al Quran, sebab rumah tanpa al Quran serupa kuburan. Al Quran yang dibaca akan menjadikan rumah bercahaya, bersinar dengan berkah dan rahmatNya.



Undanglah pertolongan Allah Subhanahu waTa'ala ke dalam keluarga dengan menolong agama Allah.Tegakkan kemuliaan Islam dalam diri, pasangan hidup (suami/isteri), anak-anak, dan siapa pun di rumah.

Bismillah. Yuk hijrah, jadikan rumah kita sebagai rumah cahaya. Cahaya kebaikan, perbaikan, dan pertaubatan.

Note:
Sebagian penjabaran poin-poin diatas adalah tambahan catatan saya dari berbagai sumber, sebagai penguatan.





Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.