BILA TIBA WAKTU

Kamis, Desember 28, 2017



Ahad, saya mendapatkan berita meninggalnya seorang teman di sosmed. Wasilah kematiannya adalah sakit.

Usia belum enam puluh tahun. Beliau orang terkenal, tampak dari banyaknya sahabat, teman, yang mengucapkan bela sungkawa. Aktivitasnya (sepanjang pengetahuan saya) sangat padat. Pembicara kelas nasional, pendapat dan sarannya didengar berbagai kalangan. Memiliki banyak kesibukan dan acara serta kegiatan, mulai dari kegiatan ilmiah sampai kegiatan sosial.
Semoga Allah ampuni dosa beliau, dilapangkan kubur dan dimaafkan kesalahan.Semoga segala kebaikan dan amal sholihnya diterima oleh Allah SWT.

Ketika bepergian, saya sering berpikir, apakah saya tengah mendekati waktu dan tempat bertemu ajal?
Bisa jadi, ketika naik motor, tengah berhenti di lampu merah, tiba-tiba ada mobil yang blong rem dan menabrak dari belakang. Atau tengah melaju dengan tenang dan aman, menyalip motor lain dan saya terjatuh, lalu terpental. Atau saat berjalan tenang di trotoar, tiba-tiba nyelonong mobil menyeruduk dari samping.
Segala kemungkinan bisa terjadi.

Saat berkendara naik mobil, kadang ada was-was. Sudah membaca doa, melantunkan istighfar, membisikkan sholawat. Mengusir gelisah dengan macam-macam bacaan. Bisa jadi, mobil tiba-tiba oleng, kemudian terbalik. Atau diserempet dari samping dan hilang keseimbangan pengemudi.
Jadi ingat kejadian dua tahun lalu. Kami hendak menuju Surabaya, menghadiri al Hikmah Day. Mobil tua kami melaju dari Jombang hingga melewati terminal Mojokerto. Di beberapa ruas jalan, bahkan sempat melaju dengan kecepatan cukup tinggi.
Selepas lampu merah terminal Mojokerto, tiba-tiba mobil batuk-batuk. Serasa ada sesuatu di bawah mobil yang diseret-seret. Kami melaju pelan, menepi ke halaman toko swalayan dekat situ.

Kami turun. Anak-anak langsung menyerbu swalayan, minta minuman dingin. Mas Budi menghampiri beberapa bapak dekat warung, dan menanyakan bengkel terdekat. Alhamdulillah, ada yang punya teman montir. Alhamdulillah, infoemasi itu sungguh sangat membantu kami. Bayangkan, hari Ahad begitu, servis mobil mana yang buka?
Montir tiba. Ia mencoba menjalankan mobil. seperti bergoyang patah-patah begitu. Pak Montir menyusup ke bawah kolong mobil.

"Asnya patah, tinggal secuil yang tertahan oleh bla..bla.. Beruntung sampean, mas! Kalau sampai patah pas jalan dengan kecepatan tinggi, bahaya sekali!!" katanya.

Saya bergidik. Ingat laju mobil di Mojoagung tadi. Lumayan cepat! Allahu Akbar, Allah berikan keselamatan pada kami.
Membayangkan bahaya yang dijelaskannya, ngeri.

Kembali pada pikiran tentang kematian.
Kemarin pagi, mendapat lagi kabar kematian seorang pegiat dakwah. Ibu rumah tangga, di usia belum 40 tahun. Beliau menderita penyakit autoimun. Kesaksian teman-teman dekat tentang almarhumah adalah seputar kebaikan, keramahan dan kelapangdadaan serta mudah memaafkan. Sungguh kesaksian yang indah.

Betapa dekat saya dengan kematian. Betapa misteriusnya ajal menyergap. Rutinitas, pekerjaan, mimpi-mimpi, cita-cita, keinginan, adalah jebakan angan-angan yang menjauhkan kesadaran akan dekatnya kematian ini.
Seolah-olah hidup telah dijamin akan lama, dan kematian mendekat besok-besok. Setelah pensiun, setelah enam puluh tahun.
Astaghfirullah.

Bagaimana rasanya mati? Bagaimana alam tempat ruh saya ditempatkan? Bagaimana pengapnya kubur? Bagaimana hari-hari menanti kiamat tiba dalam kubur? Bagaimana rupa malaikat maut? Malaikat Munkar Nakir?
Saat itu, saya akan tahu kadar amal perbuatan. Mana yang menjadi amal sholih, mana yang sia-sia. Dosa-dosa ditampakkan gamblang. Astaghfirullah. Masalah ghaib ini saat dipikirkan dalam-dalam, memunculkan gemetar dan ketakutan besar. Mengecilkan semua harta benda yang tampak. Mengaburkan angan-angan, mengerdilkan segala hiruk pikuk dunia. Tak ada guna kebanggaan atas rumah. Tak ada guna kesenangan pada kendaraan. Tak ada artinya gelar, status, atau prestasi-prestasi.
Kembalinya pada ketakutan besar akan amal. Cukupkah untuk menghindarkan diri dari siksa? Dapatkah selamat dari kesulitan alam kubur? Bagaimana pembalasan atas sikap buruk, amal jahil, kedzaliman dan kerusakan yang sudah dibuat?

Astaghfirullah.
Laa haulaa walaa quwwata illa billah.




Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.