KENAPA BUKAN AKU?

Selasa, Oktober 03, 2017


Pagi hari, sekitar sepekan lalu, ada kabar meninggalnya putri salah satu ibu guru. Sang putri masih kuliah, baru saja selesai melaksanakan pratik lapangan di sebuah sekolah di luar kota. Menurut ibunya, dia tengah menuju ke sekolah tempat praktik untuk mengurus sesuatu. Berangkat berdua, dia duduk di boncengan. Di suatu tempat, temannya mendadak merem laju motor. Dia terlempar, dan langsung koma. Sepekan kemudian, takdir kematian sampai. Dia wafat tanpa sempat terbangun lagi.

Kami takziyah. Tiba di rumah duka, jenazah baru saja sampai. Belum disucikan, masih disemayamkan di ruang tamu. Ayah dan Ibunya duduk dekat gerbang rumah. sang Ayah tampak lemah. Beberapa hari sebelum peristiwa kecelakaan itu, sang Ayah dirawat di rumah sakit. Kami beriringan, menyalami orang-orang yang duduk di sekitar situ. Saya bertemu Ibunda Yudha, murid saya di Al Ummah dulu. Juga ada Bu Supri, tetangga belakang rumah. Mereka rekan kerja ayah almarhumah.

Orang kelima yang saya salami adalah seorang nenek. Tangan kanan saya digenggam, erat sekali. Dia memandang saya sambil terisak. Ada air mata yang menetes perlahan.
"Puthuku, Nduuuk. Puthuku dipundhut (cucuku, Nak, cucuku diambil, red.)," katanya. Tangan saya masih digenggamnya. Dia tersedu-sedu.
"Shabar, nggeh, Mbah," saya mengusap-usap lengannya dengan tangan kiri. Jujur saja, saya tidak tahu harus mengatakan apa. Pertama, takut salah bicara sebab tidak fasih berbahasa Jawa halus. Dua, nenek itu demikian emosional, seperti meratap dan suaranya tidak tertangkap jelas.
Antrian salaman di belakang saya jadi agak tersendat. Saya bergeser segera setelah genggamannya dilepaskan.

Memasuki ruang tamu, saya terkejut mendapati Mei (sebut saja begitu), yang rajin datang ke perpus mini di rumah.
"Mbak Nurul (almarhumah, red) teman satu MI, Bund. Kami dulu di MI Mujahidin," katanya, sambil mencium tangan saya. Saya duduk di dekatnya. Mei kembali tilawah. Beberapa kali air matanya menetes deras. Begitu juga dengan teman-teman di dekatnya.

Tidak lama kami di rumah duka. Ketika berpamitan, kembali nenek itu menarik tangan saya, digenggam erat-erat.
"Kenapa bukan aku yang diambil? Aku sudah tua... Kenapa Nurul? Aku saja, umurku sudah tujuh puluh," kata-katanya dalam bahasa Jawa itu kini bisa saya tangkap dengan jelas.
Kembali ia menangis. Ibunda Yudha menepuk-nepuk pundaknya, menenangkan.

Saya tidak bisa berkata apa-apa. Lagi-lagi hanya bisa mengusap-usap lengan dan bahunya, supaya reda tangisnya.

Sepanjang perjalan pulang, hingga beberapa jam setelahnya, kalimat nenek almarhumah terngiang-ngiang. Mengapa yang muda yang diambil, sementara yang sudah sepuh, bungkuk, dan lemah tidak dipanggil lebih dahulu?

Tapi siapa yang kuasa menawar? Siapa yang bisa meminta kematiannya dimajukan atau diundurkan sesuai kehendak? Siapa yang punya wewenang mengurutkan jadwal kematian, bahkan di lingkungan terdekatnya? Andai bisa dibuat jadwal begini: yang meninggal lebih dahulu adalah Fulan, sebab ia sudah sakit-sakitan. Kemudian Fulanah, sebab fisiknya lemah. Yang kuat, sehat, dan muda, nanti saja belakangan.
Tapi siapa yang sanggup mengatur demikian?

"Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Maka apabila Telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (Q.S. Al-A’raf: 34).


Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.