TERENDAH DAN TERTINGGI

Kamis, Oktober 26, 2017


AKSI MLEROK

"Kok ada sih orang begitu? Aneh. Ngeselin banget."

Pernah bilang begitu saat menghadapi orang yang nggak banget?
Misal, bagi saya nih, orang yang keras kepala dalam kesalahan itu, menjengkelkan. Sudah tahu salah, diingatkan masih ngeyel. Apalagi jika dia ngambek, atau balik memusuhi. Kalau yang melakukan itu anak kecil atau remaja, rasanya masih pantas.
Tapi kalau jenis orang begitu adalah ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah beranak pinak, kayanya kok bukan levelnya.

Ada teman yang pernah curhat tentang salah satu rekan kerjanya. Ceritanya, ada customer yang tidak puas dengan pelayanan rekan tersebut.
Sebagai sahabat yang baik dan benar, teman tersebut memberikan masukan. Saya lihat diksinya bagus, sikapnya juga santun. Tidak mempermalukan atau mengeluarkan kata-kata kasar.
“Aku diplerok-i, gimana?” keluhnya.
You know diplerok-i? Dilihat dengan pandangan tidak enak, dengan pandangan sinis. Dengan mulut mencap-mencep apalagi, lebih mandes. Sejenis itu lah. Kalau penasaran gimana gaya plerok itu, ketemuan yuk. Nanti saya plerok-i. Tapi jangan tersinggung loooh. Saya kan cuma praktik.

Jawaban saya atas keluhan dia standar saja : “Sabar. Itu resiko menasihati. Dia gak terima ya sudah, yang penting gugur kewajiban mengingatkan.”
“Tapi ndak enak lho Ndaaaaa,” katanya, dengan bibir mencap-mencep. Sambil mlerok juga kah? Oo, kalau dia begitu, tak sun!
Yo rapopo, nanti lak sembuh. Kalau gak sembuh ya berarti dia angel dikandani,” saya santai menjawab. Bukan sok tahu atau gimana. Beberapa kali saya berhadapan dengan orang-orang demikian.
Dan saya kasihan pada mereka.

LEVEL TERENDAH DAN TERTINGGI

"Dia sedang menerapkan hajat kemanusiaannya, sehingga timbul sikap-sikap yang menjengkelkan. Bukankah manusia punya watak buruk yang bisa jadi membuat kesal orang lain?"
Begitu paparan salah seorang adik binaan dalam pertemuan.
Saya suka istilah ini : hajat kemanusiaan. Menjalankan fungsinya sebagai manusia yang tidak bisa sempurna. Yang selalu punya cacat cela. Yang kadang menyenangkan, membahagiakan, mengharukan. Tapi bisa juga tiba-tiba menjengkelkan, jadi sumber masalah, bikin kepala senut-senut, atau hati muangkel. Sebab mereka manusia, sama seperti kita.

Level terendah ukhuwwah adalah berlapang dada. Begitu lanjut adik binaan tersebut.
Berlapang dada atas segala gesekan yang timbul dalam interaksi sebagai manusia.
“Jangan berharap dia tidak pernah salah, sebab yang tidak salah itu malaikat. Kalau teman kita malaikat, gak seru. Gak sama levelnya,” begitu, kalau tidak salah paparan selanjutnya. Betul juga. Kalau berteman sama malaikat, saya gak bisa jail dan usil pada orang lain.

Level terendah ukhuwwah adalah lapang dada, dan level tertingginya adalah itsar. Itsar bermakna mendahulukan atau mengutamakan orang lain.
Kedua level tersebut, adalah kutub berlawanan dengan tabiat dasar manusia.
Tabiat berkeluh kesah, berseberangan dengan lapang dada.
Tabiat ingin menang sendiri, berbanding terbalik dengan mendahulukan atau mengutamakan orang lain.

Ada kalimat bagus yang pernah saya baca. Tentang perbedaan antara manusia yang berorientasi pada akhirat dan manusia yang berorientasi pada dunia. Kurang lebihnya begini:
' Akhirat itu luas dan kekal. Oleh sebab itu manusia yang berorientasi pada akhirat, hatinya lapang. Dia tidak mudah bergesekan dengan orang lain, sebeb masalah dunia kecil baginya. Ia tenang, terkendali, dan meneduhkan.
Sedengkan dunia itu sempit dan fana. Manusia yang berorientasi pada dunia akan saling senggol. saling sikut, saling dorong; yang kemudian memancing pertengkaran, kemarahan, dan saling menjegal atau saling menjatuhkan.'


Analogi sederhananya, lihatlah dalam ruangan sempit, yang dijejali puluhan orang. Pergerakan diantara mereka akan menimbulkan huru hara, apalagi jika saling berebut. Bikin sesak nafas, tegang, marah, mangkel.
Bandingkan jika puluhan orang itu ada di ruangan seluas lapangan bola. Orang-orang yang tenang, suasana terkendali. Jikapun ada salah paham, dengan modal ketenangan yang mereka punya, persoalan akan selesai dengan baik.


Level terendah ukhuwwah adalah lapang dada, dan level tertingginya adalah itsar.
Suatu waktu, Abu Bakar Ash Shiddiq didekati oleh seseorang dan orang itu berkata: "Wahai Abu Bakar, demi ALlah, aku akan mengumpatmu dengan sesuatu yang tidak akan pernah engkau lupakan sampai engkau masuk kuburan."
Abu Bakar tersenyum, dan berkata: "Demi Allah, umpatan itu akan masuk ke kuburan bersamamu, bukan bersamaku."
Bahasa sederhananya: "Monggo, silahkan dicela. Aku gak rugi!"

Jangankan menerapkan level tertinggi ukhuwwah, masuk dalam level terendah, yaitu lapang dada, terasa sulit, sulit sekali.
Saya sering sedih, kadang mangkel, kalau ada yang mencela. Apalagi kalau celaan itu ngambrak, aneh, dan dibuat-buat. Belum bisa sepenuhnya bersikap lapang dan bersabar. Kalau sedang bagus hati, enteng. Kalau sedang kemrungsung, saya akan bertanduk, bercakar dan bertaring. Kadang muncul pernyataan : LU JUAL, GUA BELI!
Buruk, dan emosional. Bukannya menyelesaikan masalah, sikap model saya itu bikin masalah tambah besar. Sebab saya jadi bete, jadi jutek, dan wajah tambah jelek. Hati juga penuh curiga. Sama sekali tidak kondusif untuk bersikap positif.
Bagaimana bisa bersikap positif, jika yang tertanam dalam benak saya tentang orang tersebut adalah keburukan? Bukankah kita akan melihat dan menemukan apa yang kita persepsikan?
Bagi saya dia menyebalkan, maka persepsi saya itu akan mendorong hati dan pikiran saya peka dengan segala sesuatu pada dirinya yang menimbulkan sebal. Antene akan mudah menangkap sinyal keburukannya, lemot menyergap sisi baik.

Level terendah ukhuwwah adalah berlapang dada.
Kalau sudah mentok, dan kesulitan, saya memilih berdoa banyak-banyak. Memohon agar Allah tautkan hati saya dan hatinya dalam taat dan cinta padaNya.
Biasanya setelah itu ayem. Selesai? Tentu tidak secepat itu. Tetap harus berusaha menetralisir.

Level terendah ukhuwwah adalah berlapang dada.
Dan syetan sungguh sangat tahu bagaimana menggoyahkan kelapangdadaan itu.

A'udzubillaahi minasy syaitoonirrojiim.

Note:
Pemirsa pasti punyak banyak kiat untuk berlapang dada. Sudikah berbagi? Semoga jadi ilmu bermanfaat bagi saya dan pembaca lainnya.
Monggo, share pengalaman, yuk!


Tidak ada komentar:

Ibu Guru Umi. Diberdayakan oleh Blogger.